MALANG RAYA – Belum semua wilayah di Malang Raya terakses jaringan telekomunikasi.
Masih ada titik yang berstatus blank spot, atau tidak terjangkau layanan telekomunikasi.
Juga banyak wilayah yang masih lemah sinyal.
Baca Juga: Mantan Karyawan PT Telkom Curi 34 Router Wifi Pelanggan di Kota Malang, Begini Modusnya
Bila ditotal, ada 89 wilayah di Malang Raya yang belum leluasa mendapat akses tersebut.
Titik blank spot terbanyak di Kabupaten Malang.
Total ada 84 desa yang berstatus blank spot.
Desa-desa itu tersebar di 20 kecamatan.
Kondisi itu dipengaruhi topografi wilayah Kabupaten Malang yang memiliki banyak daerah lembah dan pegunungan.
Sehingga, meskipun seluruh desa sudah terkoneksi internet, baik nirkabel (sinyal) maupun jaringan Fiber Optik (FO), masih ada desa yang belum ter-cover secara keseluruhan.
Itu terjadi khususnya di daerah-daerah pelosok.
Seperti di Malang Selatan, yang terjadi di Desa Segaran, Gedangan, Tumpakrejo, Sumberejo, Gajahrejo, dan Sindurejo Kecamatan Gedangan.
Kemudian, di Malang Barat ada di Desa Wonoagung, Sukosari, Bayem, dan Pondokagung Kecamatan Kasembon.
”Namun, tidak seluruh desa termasuk blank spot. Tetapi, ada beberapa spot di desa tersebut yang memiliki blank spot. Misalnya di Pantai Ngliyep, bagian dekat pantai tidak ada sinyal, tapi kalau sudah naik ke bukitnya ada sinyal,” ujar Linden Suryawan, Kabid Infrastruktur dan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Malang, kemarin (11/10).
Begitu pula di beberapa tempat lainnya.
Seperti di Jalur Lintas Selatan (JLS), Pantai Ungapan, dan sebagainya.
Linden menambahkan, meski ada 84 desa yang masih memiliki area blank spot, semua perumahan di Kabupaten Malang sudah 100 persen terlayani internet.
Bahkan, menurut hasil analisis pihaknya, pada triwulan pertama 2024, layanan 4G di Kabupaten Malang sudah mencapai 97,65 persen.
Sementara layanan 2G sudah merata di Kabupaten Malang.
”Itu hanya berdasar analisis menggunakan komputer. Hasilnya bisa berbeda dengan di lapangan,” ucap pejabat eselon III B Pemkab Malang itu.
Biasanya, di daerah lembah dan pegunungan, jaringan nirkabel sulit diakses.
Sebab, jaringan tersebut memanfaatkan gelombang radio untuk mengirimkan data dan memungkinkan pengguna untuk terhubung ke jaringan.
Gelombang radio bekerja dengan sangat baik ketika berada di dekat tower.
Sehingga, ketika ada di pegunungan dan jauh dari tower, sinyal akan buruk.
”Seperti di daerah perumahan, meskipun tidak blank spot, tetapi ada lemah sinyal. Seperti di beberapa titik di Kecamatan Dampit,” kata dia.
Di tempat lain, Kepala Diskominfo Kota Malang Muhammad Nur Widianto mengatakan, saat ini tersisa dua kelurahan yang masih mengalami problem sinyal.
”Terdiri dari Kelurahan Buring dan Kelurahan Cemorokandang, terutama di wilayah Baran,” jelasnya.
Dua kelurahan itu terletak di kawasan paling timur di Kecamatan Kedungkandang.
Kendati demikian, kondisi di sana tidak sampai blank spot atau nihil akses komunikasi dan layanan informasi.
”Hanya lemah sinyal, tapi masih bisa menerima jaringan,” jelas pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.
Pria yang akrab disapa Wiwid itu menyebut, sejauh ini pihaknya belum pernah menerima laporan dari warga setempat yang terdampak kondisi lemah sinyal tersebut.
Sebab mereka bisa mengakses WiFi.
Bahkan, sistem 4G juga sudah masuk.
Baik ke Kelurahan Buring maupun Kelurahan Cemorokandang.
”Hanya ada beberapa provider yang daya aksesnya cepat. Ada pula yang lambat,” terangnya.
Sementara itu, salah seorang warga bernama Siti Mutaminatun Ula mengaku sempat merasakan sulitnya mencari sinyal di Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang.
Itu terjadi lima tahun lalu.
Siti bercerita, sekitar lima tahun lalu tower untuk jaringan seluler belum masuk ke Jalan Mayjen Sungkono Nomor 57.
Tepatnya di SMP Islam Ulul Albab tempatnya mengajar.
Karena belum ada tower, setiap ada kabar dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Siti selalu ketinggalan kabar.
Itu karena Siti baru bisa mengaktifkan sinyal internet saat pulang pada pukul 14.00.
”Sementara pas berangkat, saya sama sekali tidak bisa dihubungi,” kata perempuan yang tinggal di Kelurahan Lesanpuro tersebut.
Jika waktu Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) tiba, Siti harus menumpang ke instansi pendidikan lain.
Salah satunya ke SMP Negeri 10 Kota Malang.
Tower untuk sinyal baru tersedia sekitar awal pandemi.
Berasal dari provider Telkomsel. Setelah itu, mulai ada pihak-pihak yang menawarkan layanan WiFi.
Untuk menunjang kegiatan pembelajaran, SMP Islam Ulul Albab juga memasang satu WiFi.
Kapasitasnya 20 Mbps.
Meski sudah tersedia jaringan sinyal yang lebih memadai, tidak semua siswa di sekolahnya berlangganan paket internet.
Apalagi sinyal yang lancar di sana baru provider Telkomsel.
”Alhasil, kami dari pihak sekolah juga tidak pernah memberi tugas yang mengharuskan pelajar mencari di internet. Pengerjaan tugas pun manual menggunakan kertas,” bebernya.
Di Kota Batu Tersisa Empat Titik Serupa dengan Kota Malang, di Kota Batu juga masih ada wilayah yang lemah sinyal.
Meski begitu, Kepala Diskominfo Kota Batu Onny Ardianto memastikan tidak ada wilayah yang berstatus blank spot.
”Sejauh ini yang kami data ada empat titik (yang lemah sinyal). Yakni di Tlekung, Coban Rais, Cangar, dan Brau,” terangnya.
Keempat titik tersebut tersebar di tiga kecamatan.
Desa Tlekung di Kecamatan Junrejo, Coban Rais di Kecamatan Batu, Cangar dan Brau di Kecamatan Bumiaji.
Lebih lanjut, Kepala Bidang (Kabid) Aplikasi Informatika (Aptika) Diskominfo Kota Batu Tutri Leksono Adi menyampaikan, sekitar dua tahun yang lalu titik blank spot masih ada.
Yakni di wilayah Sumberbrantas dan Brau. Problem itu sudah tidak ada setelah adanya kabel fiber optik yang memudahkan pemasangan WiFi.
”Blank spot dan lemah sinyal itu berbeda. Kalau blank spot artinya tidak ada sinyal sama sekali,” kata dia.
Tutri mengatakan, kondisi lemahnya sinyal di daerah tertentu bisa dipengaruhi beberapa faktor.
Misalnya kondisi geografis lokasi yang berada di dataran tinggi.
Atau tidak adanya infrastruktur penyedia internet.
Sehingga, Base Transceiver Station (BTS) tidak bisa menjangkau.
Contoh lainnya di wilayah Desa Tlekung.
Wilayah permukiman masih cukup kuat sinyal.
Sementara jika sudah naik sekitar satu kilometer memasuki kawasan hutan, sinyal semakin sulit diakses.
Atau di Coban Rais akan kesulitan sinyal di wilayah camping ground saja.
Salah satu warga di daerah Cangar Rena Dwita Anggraeni membenarkan jika sinyal di daerahnya cukup sulit diakses.
Baca Juga: Sukseskan World Water Forum Ke-10, XL Axiata Siapkan Jaringan Berkualitas dan Body Worn Camera
Itu karena wilayahnya berbatasan langsung dengan kebun dan hutan.
”Tapi kalau kami jalan 200 sampai 500 meter sudah ada lagi sinyalnya,” jelasnya.
Rena menambahkan, kondisi itu tidak membawa pengaruh banyak.
Sebab, kini di wilayahnya sudah banyak warga yang memasang WiFi.
Sehingga masyarakat tetap bisa mengakses internet.
Hanya saja, jika ada pemadaman listrik, warga harus turun hingga satu kilometer untuk mendapat sinyal lebih baik karena menggunakan paket data. (yun/mel/ori/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana