RADAR MALANG - Wacana skytrain integrasi Kabupaten dan Kota Malang serta Kota Batu kembali bergulir.
Bupati Malang HM Sanusi berencana menggodok lagi wacana skytrain bersama dua kepala daerah Malang Raya dan Gubernur Jatim terpilih.
"Jumat, Sabtu, Minggu, arah Kota Batu dari Karanglo, Singosari sudah tidak ada pergerakan alias macet. Harus ada solusi untuk masyarakat di daerah sekitar itu agar tidak terdampak kemacetan jalan," kata Sanusi.
Nantinya, proposal skytrain bakal didorong ke pemerintah pusat untuk dicarikan dananya.
Proyek tersebut merupakan terjemahan proyek strategis wisata nasional yang memperkuat Bromo Tengger Semeru (BTS) dan wisata sekitar seperti Batu.
Namun, belum diketahui sejauh apa skytrain bisa diwujudkan.
Berikut ini negara-negara yang sukses menerapkan skytrain.
Ada sistem skytrain negara ASEAN yang sudah sukses bergulir.
Negara Paling Sukses Menggunakan Skytrain
Jepang (Tokyo & Osaka)
Sistem: Tokyo Monorail, Osaka Monorail.
Keberhasilan:
Menghubungkan bandara dengan pusat kota secara efisien.
Tingkat keterisian tinggi karena integrasi dengan sistem kereta lainnya.
Teknologi yang stabil dan operasional tanpa gangguan besar sejak awal peluncuran.
Jepang sukses karena integrasi moda transportasi yang baik, tarif kompetitif, dan kecepatan layanan yang stabil.
China (Chongqing Monorail)
Keberhasilan:
Salah satu monorel terpanjang di dunia, melayani area padat dan berbukit.
Pemandangan unik menjadikannya daya tarik wisata, sekaligus moda transportasi harian.
Efisiensi pada medan sulit membuat Chongqing menjadi contoh sempurna untuk kota dengan tantangan geografis seperti Malang.
Thailand (Bangkok Airport Rail Link)
Keberhasilan:
Menghubungkan bandara utama dengan pusat kota.
Tarif terjangkau bagi turis dan warga lokal.
Bangkok berhasil memanfaatkan skytrain untuk mendukung sektor pariwisata.
Bangkok menawarkan model ideal untuk Malang karena beberapa alasan berikut ini.
Konteks Pariwisata:
Bangkok dan Malang sama-sama destinasi wisata dengan kebutuhan transportasi dari bandara ke kota.
Skala Kota:
Bangkok memiliki skala yang lebih besar, tetapi sistem mereka dapat disesuaikan untuk kebutuhan kota yang lebih kecil seperti Malang.
Biaya dan Tarif:
Sistem di Bangkok relatif terjangkau dengan implementasi yang efisien.
Ini cocok untuk Malang yang berorientasi pada wisatawan domestik dan internasional.
Dengan perencanaan yang matang, integrasi moda transportasi, dan tarif kompetitif, proyek ini berpotensi menjadi solusi transportasi modern yang mendukung pengembangan pariwisata dan mengurangi kemacetan di Malang Raya.(fin)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana