Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menelusuri Jejak Jalur Trem Malang di Kecamatan Tumpang: Beroperasi 1901 sampai 1968, Sisakan Bangunan Loket

Bayu Mulya Putra • Rabu, 19 Februari 2025 | 18:40 WIB

Dokumentasi Stasiun Tumpang dengan bangunan lama dari kayu setelah diresmikan pada 1901. Foto kanan, Petugas Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) I Surabaya mengabadikan sisa loket karcis.
Dokumentasi Stasiun Tumpang dengan bangunan lama dari kayu setelah diresmikan pada 1901. Foto kanan, Petugas Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) I Surabaya mengabadikan sisa loket karcis.

Jalur trem dari Blimbing (Kota Malang) ke Tumpang menjadi yang pertama ditutup pascakemerdekaan. Sampai saat ini masih ada sisa bangunan stasiunnya. Yang paling mencolok yakni sisa loket karcis di Jalan Tunggal Ika, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

BIYAN MUDZAKY HANINDITO

Pada zaman Belanda, jalur trem (rel khusus di dalam kota) penghubung antara Kota Malang dengan Kecamatan Pakis dan Tumpang diberi nama jalur Kereta Api (KA) Singosari-Tumpang.

Itu karena jalur tersebut dibangun dalam satu paket.

Letak Stasiun Blimbing yang berada di tengah kota menjadi tempat transit.

Salah satunya trem dari Tumpang yang langsung melanjutkan perjalanan ke Singosari.

Jalur sepanjang 23 kilometer tersebut dibuka operasionalnya pada 27 April 1901.

Pembukaan jalur KA dari Kota Malang ke Tumpang dilakukan untuk membuka isolasi wilayah pada waktu itu.

Juga untuk mengangkut hasil bumi dari perkebunan.

”Salah satunya itu tebu, yang dikirim ke beberapa pabrik gula di Malang. Sekaligus menjadi jalur BBM jenis avtur ke arah Lanud Bugis (Abdulrachman Saleh),” terang Humas Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) I Surabaya Alfaviega Septian Pravangasta.

Khusus Tumpang, yang merupakan ujung timur jalur tersebut, hanya ada satu bangunan stasiun dengan luas sekitar 20 x 15 meter.

Memiliki tiga jalur dan tidak punya depo untuk penyimpanan beberapa sarana.

Baik kereta penumpang, gerbong barang, maupun lokomotif.

Saat baru diresmikan, hanya berupa bangunan kayu kecil dengan tiga jalur.

Alfaviega menyebut, jalur KA tersebut memang tergolong ramai.

Namun sempat mengalami penurunan okupansi penumpang dan barang yang signifikan jelang Malaise (krisis ekonomi dunia) tahun 1932.

Malang Stoomtram Maatschappij (MS) selaku operator jalur trem yang sudah rugi karena berkurangnya angkutan, makin merugi karena operasional jalur ke Tumpang.

Kecepatan KA yang lambat dan tidak adanya angkutan barang membuat MS menggantungkan pendapatan jalur tersebut dari angkutan penumpang.

Terlebih, jalan dari arah Kota Malang menuju Tumpang dan sekitarnya juga sudah dibuka pemerintah kolonial Belanda.

”Akhirnya pada tahun itu ada peningkatan kecepatan KA, dari sekitar 20 kilometeran menjadi 45 kilometer per jam,” sebut dia.

Dalam buku Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aansluitende Automobieldiensten op Java en Madoera terbitan N.V Sie Dhian Ho, Solo tahun 1926, frekuensi perjalanan trem dari dan menuju ke Tumpang menjadi tiga kali pulang pergi. Jarak 23 kilometer ditempuh dalam waktu satu jam.

Setiap perjalanan KA membawa dua kereta penumpang dan satu gerbong barang.

Dua kereta terdiri dari kelas satu untuk orang Belanda dan timur jauh.

Sementara pribumi masuk dalam kelas tiga. Hal lain yang ditemukan BTP I Surabaya adalah manifest penumpang yang melanjutkan perjalanan ke arah Poncokusumo dan Bromo setelah naik KA.

”Memang ada suatu kerja sama antara MS dan sebuah perusahaan otobus kala itu. Tapi sifatnya tidak reguler dan hanya melayani penumpang rombongan,” tambah Alfaviega.

Operasional KA di Stasiun Tumpang terus berlanjut sampai era kemerdekaan.

Frekuensi perjalanan KA juga tidak berubah sampai penutupannya pada 1968.

”Karena angkutan jalan raya waktu itu sudah makin berkembang,” ujar Alfaviega.

Rel KA yang ada di sekitar stasiun itu pun sudah terpendam tanah.

Menyisakan bangunan stasiun yang hampir tidak berubah bentuk.

Hanya berubah fungsi dari stasiun menjadi rumah dan toko pracangan.

Dengan tambahan pagar besi yang sebelumnya tidak ada.

Sisa nyata bahwa adanya operasional KA di Stasiun Tumpang adalah loket.

Bentuknya berupa jendela berukuran 1 x 1,2 meter dengan plakat kayu bertuliskan ’Loket Kartjis / Begasi’.

”Itu tidak berubah dari zaman dulu, sampai sekarang masih dipertahankan,” kata Ketua RW 5, Dusun Kedoksari, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Bambang Siswanto.

Bambang adalah menantu dari kepala Stasiun Tumpang yang terakhir, Soejatno.

Yang bersangkutan sudah meninggal 4 tahun lalu.

Tidak banyak yang diceritakan mendiang terhadapnya.

Namun sedikit yang dia tahu, mertuanya setelah berdinas di Tumpang sempat berpindah-pindah tugas.

Baik ke Singosari maupun Gondanglegi yang tutup beberapa tahun setelah Tumpang.

Meski begitu, keluarganya tetap tinggal di bekas rumah dinas yang ada di depan stasiun.

Kini, walau secara fisik Stasiun Tumpang sudah tidak terlihat, sisa keberadaan yang lain masih ada.

Yakni nama lawas Jalan Tunggal Ika berupa Jalan Stasiun.

”Jalan Stasiun itu dari depan perlimaan Masjid Besar Al Hurriyah sampai ke SD Negeri 4 Tumpang. Sekarang namanya Jalan Tunggal Ika, tapi orang-orang tahunya Jalan Stasiun,” tandas dia. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#bangunan lawas #malang #Jalur trem