Angka Kecelakaan dan Fatalitas Malang Raya Menurun
Fathoni Prakarsa Nanda• Rabu, 26 Februari 2025 | 19:35 WIB
Grafis data kecelakaan lalu lintas selama operasi keselamatan.
Upaya Preventif Terbukti Membuahkan Hasil
MALANG RAYA – Operasi Keselamatan Semeru 2025 mencatatkan hasil yang lebih baik dalam hal menekan angka kecelakaan dibanding tahun lalu.
Begitu juga dengan tingkat fatalitasnya.
Tidak ada korban meninggal dunia dan minim yang luka berat (lihat grafis).
Grafis data kecelakaan lalu lintas selama operasi keselamatan.
Misalnya di Kota Malang.
Selama rentang waktu operasi, yakni 10 sampai 23 Februari 2025 hanya terjadi tujuh kecelakaan.
Menurun dibanding tahun lalu yang mencapai 9 kecelakaan.
Wakasatlantas Polresta Malang Kota AKP Luhur Santosa mengatakan, tujuh kecelakaan menyebar di tiga kecamatan.
Terbanyak di Kecamatan Blimbing, yakni Jalan Laksda Adi Sucipto, Jalan Panglima Sudirman, dan Jalan Karya Timur.
”Kecelakaan juga terjadi di Jalan Laksamana Martadinata serta Jalan MT Haryono,” kata dia.
Dari tujuh kejadian kecelakaan, tercatat 12 pengendara yang menjadi korban.
Didominasi korban luka ringan sebanyak 11 pengendara dan satu pengendara lainnya mengalami luka berat.
Sama sekali tidak ada korban yang meninggal dunia.
”Penyebab kecelakaan beragam. Ada yang tidak bisa mengendalikan laju kendaraan, menyalip, hingga tidak memperhatikan jarak aman,” imbuhnya.
Total kerugian materiil dari tujuh kecelakaan itu diperkirakan sebesar Rp 6,5 juta.
Untuk menekan angka kecelakaan, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tertib berlalu lintas.
Mereka juga menerjunkan personel di lokasi rawan kecelakaan atau black spot.
Seperti di Jalan Kolonel Sugiono, Kelurahan Mergosono, Kecamatan Kedungkandang.
Setelah Operasi Keselamatan Semeru 2025, pengawasan akan tetap dilakukan melalui operasi ketupat.
Mayoritas Motor
Angka kecelakaan di Kabupaten Malang selama Operasi Keselamatan Semeru 2025 juga menurun.
Tahun lalu mencapai 28 kejadian, sementara tahun ini 7 kejadian.
Tahun lalu juga terdapat 2 korban meninggal dunia, sementara tahun ini tidak ada.
”Kalau dibandingkan Operasi Keselamatan Semeru 2024, fatalitas kecelakaannya menurun,” ujar Kanit Gakkum Satlantas Polres Malang AKP Samsul.
Dia menambahkan, mayoritas kendaraan yang terlibat kecelakaan adalah sepeda motor.
Jumlahnya mencapai 25 unit.
Kendaraan lain yang terlibat adalah mobil transportasi umum dan angkutan barang.
Faktor penyebab kecelakaan dari tahun ke tahun masih sama.
Yaitu kelalaian pengemudi saat berkendara.
Mulai dari menabrak pejalan kaki karena tidak konsentrasi, gagal menjaga jarak aman, hingga gagal menyalip karena kurang memperhitungkan jarak aman.
Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menekan angka kecelakaan.
Mulai dari tilang, teguran presisi, hingga sosialisasi.
Namun kecelakaan akibat kelalaian dalam berkendara masih tetap tinggi.
”Mayoritas kecelakaan dimulai dari pelanggaran. Dari situ juga fatalitas kecelakaan bisa menjadi semakin tinggi,” lanjut Samsul.
Contohnya seorang pengendara sepeda motor memaksakan berkendara saat kondisi lelah.
Ditambah lagi tidak mengenakan helm.
Ketika mengalami microsleep dan terjadi kecelakaan, fatalitas semakin tinggi hingga dapat memicu kematian.
Seperti kecelakaan di Jalan Raya Cerme, Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji pada 29 Januari lalu yang menewaskan sepasang suami istri.
Sang istri tidak mengenakan helm.
Ketika terjadi tabrak samping dengan mobil boks di depannya, sang istri langsung meninggal dunia karena kepalanya terlindas mobil.
Sementara suaminya meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
Untuk saat ini, di Kabupaten Malang terdapat tiga jalan titik yang masuk kategori rawan kecelakaan.
Yaitu Jalan Raya Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung; Jalan Raya Jatikerto, Kecamatan Kromengan; dan Jalan Raya Bululawang, Kecamatan Bululawang.
“Sedikit banyak kondisi jalan juga berpengaruh. Seperti di Jalan Raya Ngebruk sering terjadi kecelakaan karena kurang penerangan,” papar Samsul.
Mayoritas kecelakaan terjadi pada jam-jam padat lalu lintas.
Yaitu antara pukul 09.00 hingga 10.00, kemudian pukul 16.00 sampai 17.00.
Tapi ada juga kecelakaan yang terjadi pada tengah malam.
Biasanya terjadi karena pengendara mengemudi dalam kondisi mengantuk.
Jalur Pujon-Kediri
Wilayah Kota Batu juga mencatatkan penurunan angka kecelakaan.
Tahun lalu terdata 7 kejadian, sementara tahun ini hanya lima kejadian.
Mayoritas kecelakaan terjadi di sepanjang Jalur Pujon-Kediri.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Batu Ipda Hendri Setiawan mengatakan, dari lima kecelakaan itu, tiga di antaranya terjadi di sepanjang jalan antara wilayah Pujon dan Kediri.
Dua kejadian di Kecamatan Pujon dan satu di Kecamatan Ngantang.
”Dua kecelakaan lain terjadi di Jalan Raya Oro-Oro Ombo dan Jalan Sultan Agung Kota Batu,” terangnya.
Kendaraan yang terlibat terdiri dari 8 sepeda motor dan satu mobil penumpang.
Jenis kecelakaan yang terjadi antara lain satu tabrakan depan-belakang, tiga tabrakan depan-samping, dan satu tabrakan dengan pejalan kaki.
Tabrakan depan belakang terjadi saat pengendara kurang memperhatikan atau menjaga jarak dengan kendaraan di depannya.
Sementara tabrakan samping terjadi ketika pengendara motor hendak menyeberang jalan, namun kurang memperhatikan kendaraan di jalur utama.
”Jenis ini yang paling banyak terjadi,” imbuhnya.
Menurut Hendri, angka kecelakaan maupun jumlah korban berhasil ditekan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Artinya, upaya preemtif dan preventif petugas cukup membuahkan hasil.
Upaya yang dilakukan selama operasi keselamatan ialah mengerahkan petugas pada jam rawan.
”Utamanya pada saat jam berangkat dan pulang kerja,” terangnya. (mel/aff/iza/fat)