MALANG RAYA – Hampir 10 ribu lembar uang palsu (upal) ditemukan beredar di Masyarakat sejak 2024 hingga awal 2025.
Namun, tak mudah untuk melacak produsennya.
Rata-rata pelaku penyebaran uang palsu membeli dari penyedia atau produsennya secara online tanpa saling tukar identitas.
Hal itu sengaja dilakukan agar keberadaan produsen makin sulit dilacak.
Baca Juga: Marak Laporan Upal ke Bank, Minim ke Polisi : Kasus di Kepanjen dan Pakisaji
Karena itu, para pelaku yang tertangkap rata-rata bukan produsen.
Melainkan orang yang sengaja mengambil keuntungan dengan membeli uang palsu dengan harga murah, kemudian membelanjakan sedikit demi sedikit untuk mendapat kembalikan uang asli.
Aparat penegak hukum pun semakin sulit melacak keberadaan pembuat upal.
Kasi Pidum Kejari Kabupaten Malang Agus Eko Wahyudi menjelaskan, butuh alat yang mumpuni untuk membuat uang palsu yang mirip asli.
Baca Juga: Tukar Uang Baru, Awas Tertipu Upal
Bahan yang digunakan pun berbeda.
”Kalau uang asli, bahannya dari serat kapas. Para pembuat uang palsu bisanya mencoba menyiasati dengan bahan lain. Seperti kertas roti dan kertas biasa,” katanya.
Untuk saat ini, kemiripan uang palsu dengan uang asli baru sebatas pada bentuk cetakan yang timbul saja.
Biasanya para pelaku meniru cetak intaglio, yakni teknik cetak dengan prinsip penggoresan gambar ke atas permukaan, di mana garis atau area yang diukir menahan tinta dan menciptakan gambar.
Para pencetak uang palsu juga sudah bisa meletakkan benang pengaman berbentuk garis melintang dari atas ke bawah yang memuat tulisan BI.
Namun jenis benang yang digunakan berbeda.
Apalagi bentuknya.
Sebab benang pengaman pada uang asli ditempel dengan bentuk anyaman.
Baca Juga: Penukaran Uang Baru di Malang Raya Sudah Tembus Rp 11,1 Miliar
Tinta yang berubah warna dari tiap sudut uang asli juga cukup menyulitkan pencetak uang palsu.
Apalagi Bank Indonesia menyiasati dengan tinta yang tidak tampak (invisible ink).
Bahkan gambar bisa saling membelakangi antara satu sisi dengan sisi lainnya (rectoverso).
Dengan tingkat kesulitan tinggi seperti itu, pelaku pencetak uang palsu membutuhkan keahlian dan peralatan yang mumpuni.
Baca Juga: Bank Indonesia Malang Siapkan Rp 4,1 T Uang Baru
Selama ini hal semacam itu belum pernah ditemukan di Malang Raya.
Misalnya di Kabupaten Malang.
Sejak 2023 polisi hanya menelusuri dua kasus dan berujung pada pemidanaan pengedar.
Belum sampai pada agen dan pencetaknya.
Kasus terakhir terjadi pada 2024.
Saat itu Satreskrim Polres Malang menindak peredaran uang palsu hanya senilai Rp 100 ribu.
Tersangka yang ditindak adalah achmad Fauzan Aldiza, 28.
Warga Desa Pakisaji, Kecamatan Pakisaji.
”Yang kami temukan sebatas pengedar saja. Untuk pencetak maupun agen juga belum ditemukan,” pungkas Kasatreskrim Polres Malang AKP Muchammad Nur.
Baca Juga: Segera, Jukir di Kabupaten Malang Setor Uang Parkir Menggunakan QRIS
Sementara itu, berbagai upaya dilakukan Bank Indonesia (BI) Malang untuk menekan peredaran uang palsu.
Salah satunya melalui program edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.
Selama 2024 sudah dilakukan 2.915 edukasi yang menyasar semua kalangan.
Mulai anak-anak hingga orang dewasa.
Edukasi dilakukan untuk mengenali dan menjaga rupiah agar tetap bersih dan layak edar.
Baca Juga: Segera Tukar Uang Baru untuk Lebaran, Cek Syarat dan Caranya di Sini
Kemudian juga imbauan untuk tidak mencoret, meremas, atau melipat uang secara sembarangan.
Termasuk edukasi teknik 3D (Dilihat, Diraba, dan Diterawang) untuk mengenali keaslian uang rupiah selalu diselipkan dalam materi.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Malang Dedy Prasetyo mengatakan, tugas BI adalah untuk mengedukasi masyarakat terkait keaslian rupiah.
Saat terdapat pengungkapan kasus terkait uang palsu oleh aparat penegak hukum, pihaknya sering kali dilibatkan sebagai saksi ahli.
Terakhir, kata Dedy, pihaknya menjadi saksi saat pengungkapan kasus di Polres Malang pada Oktober 2024.
“Kami memberi keterangan ciri-ciri uang rupiah asli apa saja,” tuturnya.
Sementara BI sendiri tidak pernah melakukan penyidikan secara mendalam terkait bahan maupun asal usul uang palsu.
Namun Dedy menyebutkan saat ini uang palsu yang beredar sebenarnya sangat gampang dideteksi karena memakai kertas biasa dan dicetak menggunakan printer biasa.
Baca Juga: Peredaran Uang Palsu Bikin Resah Pedagang
Berbeda dengan uang rupiah asli yang memakai bahan kertas serat kapas dan dicetak menggunakan teknik khusus.
“Jadi dipegang saja sudah terasa kalau palsu,” ungkapnya.
Hampir seluruh bagian uang rupiah sulit untuk ditirukan.
Seperti efek kasar yang terdapat di beberapa bagian dan terasa saat disentuh, seperti di lambang garuda, angka nominal, hingga huruf terbilang akan terasa kasar saat disentuh.
Uang palsu biasanya juga memiliki efek kasar namun bukan dari teknik cetak khusus melainkan ditaburi semacam serbuk agar terasa kasar.
“Itu pun kasar di semua bagian uang palsunya,” kata Dedy.
Sementara itu gambar tersembunyi yang hanya dapat dilihat saat diterawang, seperti gambar pahlawan dan logo BI yang utuh juga tidak dapat ditirukan.
“Karena beberapa memang sudah ada unsur pengaman dari bahan kertasnya, bukan hasil cetakan,” tuturnya. (aff/dur/iza/fat)
Editor : A. Nugroho