Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tiap Tahun Rumah Sakit di Malang Raya Tangani 100 Lebih Down Syndrome

Fathoni Prakarsa Nanda • Jumat, 21 Maret 2025 | 18:13 WIB

Penjelasan rinci tentang penanganan down syndrome di Malang Raya (Rio/ Radar Malang).
Penjelasan rinci tentang penanganan down syndrome di Malang Raya (Rio/ Radar Malang).

Belum Semua Rumah Sakit di Malang Raya Punya Tenaga Ahli

MALANG RAYA – Setiap tahun, seluruh rumah sakit di Malang Raya bisa menangani sekitar 100 pasien down syndrome.

Baik pasien lama maupun pasien baru.

Penanganan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. 

Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) dr Ariani MKes SpA(K) mengatakan, secara nasional perbandingan anak down syndrome yang lahir mencapai 1:1000.

Tidak semua rumah sakit bisa memberikan penanganan.

Karena itu, pihaknya bisa merawat pasien down syndrome berasal dari Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Malang, hingga Kabupaten Lumajang.

Baca Juga: Siswa Integral Ar-Rohmah Malang kembangkan aplikasi Iqroase belajar untuk anak Down syndrome

Saat ini, deteksi gejala down syndrome sudah dilakukan sejak bayi baru lahir.

Yakni berupa skrining untuk mengetahui kelainan lain.

Misalnya penyakit jantung bawaan dan hipertensi paru dini.

Beberapa kondisi tersebut berpotensi mengakibatkan down syndrome.

Ariani menjelaskan, potensi kelainan pada orang dengan down syndrome disebabkan gangguan dari kromosom.

"Karena pada orang down syndrome ada penambahan jumlah kromosom pada kromosom ke-21. Kalau orang normal kromosomnya ada 23 pasang atau 46 kromosom, sementara down syndrome 47 kromosom," jelas Ariani.

Kromosom yang tidak sempurna membuat organ-organ pada orang dengan down syndrome tidak berfungsi sempurna.

Termasuk organ jantung.

Mereka rentan mengalami gangguan seperti sesak napas, berat badan yang sulit naik, hingga serangan biru.

Karena itu, orang dengan down syndrome harus menjalani berbagai pemeriksaan kesehatan sejak lahir.

Selain jantung, ada juga pemeriksaan mata, THT, dan gigi.

Saat beranjak tumbuh, motorik atau kemampuan untuk menggerakkan organ tubuh juga harus dilatih.

Sebab, anak down syndrome memiliki organ gerak yang terlalu lentur.

”Supaya kondisinya tidak semakin parah, sejak usia enam bulan mereka harus mendapat penanganan motorik dan fisioterapi,” ucap Ariani.

Hari ini adalah hari Down Syndrome sedunia 2025.
Hari ini adalah hari Down Syndrome sedunia 2025.

Penanganan untuk motorik dan fisioterapi bertujuan menguatkan organ tubuh.

Seperti otot-otot leher, punggung, serta pinggang.

Orang dengan down syndrome harus dilatih sejak dini karena perkembangan mereka tidak seperti orang normal.

Baca Juga: 540 Anak di Malang Raya Terlahir Down Syndrome, Ini Data Faktanya

”Makan juga harus dilatih. Kalau terlambat, hingga usia 2-3 tahun mereka hanya bisa makan bubur,” tutur Ariani.

Kendati demikian, potensi kelahiran bayi dengan down syndrome sebenarnya bisa dideteksi lebih awal.

Pemeriksaan pertama bisa dilakukan dengan melihat kondisi janin melalui USG.

Bayi yang lahir dengan down syndrome biasanya memiliki lipatan kulit di belakang leher.

Itu bisa terlihat saat usia kandungan tiga bulan ke atas.

Pemeriksaan lainnya melalui analisis cairan ketuban atau amniocentesis.

Caranya dengan menyuntik perut ibu untuk mengambil sampel ketuban.

”Namun metode kedua tidak banyak dipakai karena memiliki risiko infeksi pada ibu,” sebutnya.

Meskipun bisa dideteksi, kehamilan down syndrome tidak bisa dicegah.

Yang bisa dilakukan para orang tua adalah melakukan penanganan terhadap anak agar tidak mengalami banyak keterlambatan pada perkembangannya.

Baca Juga: Ketika Anak Down Syndrome di Malang Raya Berkarya

Selain RSSA, rumah sakit lain juga mulai banyak yang menangani orang dengan down syndrome.

Salah satunya adalah RSUD Kota Malang.

Direktur RSUD Kota Malang dr Rina Istarowati mengatakan, setelah membuka layanan rehabilitasi medik, pihaknya sudah menangani tiga pasien dengan down syndrome.

”Tapi sekarang yang rutin terapi tinggal satu pasien,” terangnya.

Di rehab medik, pasien down syndrome akan mendapat penanganan berupa fisioterapi, terapi wicara, dan terapi okupasi.

Namun, pihaknya masih harus melengkapi penanganan dengan psikolog, psikiater, hingga konsultan tumbuh kembang.

Penyebab Lebih Kompleks Di Kabupaten Malang, jumlah pengidap down syndrome bisa mencapai ratusan.

Namun sering kali penanganannya dirujuk ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang.

Sebab jumlah tenaga ahli serta alat dan ruangan di RSSA lebih mumpuni.

Untuk tahun ini, RSUD Kanjuruhan di Kabupaten Malang menangani 10 pasien down syndrome.

“Kami biasanya melakukan penanganan awal dan penanganan lanjutan saja. Kalau ada kondisi yang kritis dirujuk ke RSSA,” ucap dr Nanda Juwita Sp A, dokter di poli anak RSUD Kanjuruhan.

Bahkan 10 pasien yang rutin dia tangani tahun ini tak jarang dirujuk ke RSSA.

Terutama ketika kondisi pasien mulai tidak stabil dan butuh penanganan secara mendalam.

Nanda menjelaskan, down syndrome tidak hanya terjadi karena kelainan kromosom.

Baca Juga: 50 Bocah Down Syndrome Beraksi di Jalan Ijen Malang

Ada juga penyebab lain, seperti kesehatan ibu pada saat hamil.

“Terutama pada ibu yang hamil saat usia senja,” ujarnya.

Selain itu, ibu yang saat hamil banyak terpapar zat beracun, terpapar asap rokok, dan asap pabrik juga memiliki risiko tinggi untuk anak.

Apalagi ditambah kebiasaan minum alkohol dan kondisi kekurangan gizi.

Meskipun tidak bisa dijamin 100 persen, sedikit banyak faktor tersebut dapat mempengaruhi anak menjadi down syndrome.

Salah satu psikiater konsultan anak dan remaja di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Radjiman Widyodiningrat, dr Tiwik Koesdiningsih, memaparkan paling tidak ada tiga terapi untuk pengidap down syndrome.

Mulai dari terapi perilaku dengan cara membantu mengondisikan sikap baik saat di rumah maupun ruang publik.

Pelatihan kedua adalah terapi okupasi untuk melatih sensori integritas anak.

Tujuannya menyelaraskan stimulasi sensorinya agar anak down syndrome bisa mengenali rasa sakit, dingin, panas, dan lainnya.

Terapi itu diharapkan bisa menyeimbangkan perasaan anak saat merasakan rasa sakit.

“Terakhir adalah terapi wicara,” ujar Tiwik.

Sebab, mayoritas anak down syndrome memiliki gangguan pada pengungkapan kata dan perasaan.

Terapi itu bertujuan agar mereka dapat berkomunikasi dengan baik dan benar.

Paling tidak bisa menjalani kehidupan normal agar secara mandiri agar tidak tertinggal dari teman lainnya.

Baca Juga: Tingkatkan Percaya Diri Anak Down Syndrome dengan Fashion Show

Usia Ibu Hamil Sementara itu, Spesialis Anak RSUD Karsa Husada Kota Batu dr Maya Chusniyah SpA MBiomed menyebut usia ibu hamil juga bisa menjadi salah satu penyebab down syndrome.

Biasanya, yang memiliki risiko adalah usia di atas 35 tahun.

Menurutnya, sel telur yang diproduksi perempuan akan terus berlangsung selama dia belum menopause.

Selama perjalanan produksi sel telur, banyak pemicu yang menyebabkan kualitasnya semakin menurun.

Misalnya konsumsi makanan yang tidak sehat, paparan sinar UV hingga radiasi.

Namun, tidak menutup kemungkinan anak down syndrome lahir dari perempuan dengan usia ideal, tapi kondisi sel telurnya tidak baik.

“Sebenarnya juga sudah bisa terdeteksi saat USG di usia kehamilan sekitar 5-7 bulan,” paparnya.

Tangan anak yang dideteksi down syndrome akan menunjukkan bentuk metal saat di USG.

Sementara bayi yang normal akan cenderung mengepal.

Maya mengatakan, angka kelahiran anak down syndrome relatif rendah di Kota Batu.

Tahun ini pihaknya hanya menangani satu anak saja pada Januari lalu.

Namun, anak tersebut terpaksa dirujuk ke rumah sakit lain yang memiliki tenaga yang cakap untuk menangani anak down syndrome.

Baca Juga: Teliti Down Syndrome, Mahasiswa UMM Raih Medali Emas Internasional

“Misalnya di Rumah Sakit Umum Saiful Anwar (RSSA). Mereka yang memiliki tenaga ahli,” tutur dia.

Perempuan asal Kecamatan Singosari itu mengatakan bahwa akses layanan BPJS Kesehatan untuk fisioterapi juga terbatas.

Hanya 2-3 kali pertemuan.

Sementara kebutuhan terapi harus dilakukan secara kontinu.

“Padahal target untuk penanganan down syndrome itu dapat ditentukan dari anak tersebut bisa mandiri. Maka, terapi yang dilakukan bahkan bisa seumur hidup,” papar Maya. (mel/yun/ori/fat)

Editor : A. Nugroho
#Rumah sakit #Malang Raya #down syndrome #kesehatan anak #Fisioterapi #deteksi dini