Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (25), Tukang Becak Ikut Mengaji ke KH Badrussalam

Bayu Mulya Putra • Selasa, 25 Maret 2025 | 19:59 WIB

TERUSKAN DAKWAH: Salah satu pengurus Langgar KH Badrussalam menunjukkan foto tokoh yang berjasa melakukan dakwah di sana
TERUSKAN DAKWAH: Salah satu pengurus Langgar KH Badrussalam menunjukkan foto tokoh yang berjasa melakukan dakwah di sana

TULISAN ”Langgar KH Badrussalam” terpampang di bagian depan bangunan yang berada di Gang I Jalan Ade Irma Suryani, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Foto dan lukisan sosok KH Badrussalam terpajang di dinding halaman langgar. Sosok tersebut terlihat memakai jas hitam dan serban di bagian kepala.

Bangunan yang sudah direnovasi tiga kali itu memang identik dengan sepak terjang dakwah dari KH Badrussalam. Di sanalah beliau sering mengajarkan ilmu-ilmu Islam.

Sarimun, salah satu Imam Rawatib di Langgar KH Badrussalam mengatakan, selama hidup, KH Badrussalam dikenal sebagai sosok yang sabar dan istiqamah.

Baca Juga: Jejak Peninggalan Islam di Malang Raya (24): Dakwah Kiai Tamin Dilanjutkan Lima Kiai di Masjid Noor

Lahir di Kota Solo, Jawa Tengah pada 1906, KH Badrussalam datang ke Kota Malang setelah mondok di Pesantren Jamsaren Solo. Tidak diketahui betul tepatnya tahun berapa KH Badrussalam datang ke Kota Malang.

Yang pasti pada 1941 KH Badrus sudah menjadi kepala sekolah di Madrasah Mualimin Jagalan, atau sekarang bernama MI KH Badrussalam.

Setiap pagi hingga siang hari, beliau mengajar di madrasah. Sementara sore hari hingga malam mengajar mengaji di berbagai tempat. Salah satunya Langgar KH Badrussalam.

”Dulu saya belajar tafsir Alquran dari beliau,” tutur pria kelahiran tahun 1952 tersebut.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (23), Kiai Tar Mondok di Empat Tempat sebelum Lakukan Syiar

Dia menyebut bahwa langgar tersebut sudah berdiri sebelum kedatangan KH Badrus.

”Namun belum istiqamah dan ramai,” kata Sarimun.

Berkat KH Badrus, langgar tersebut terus aktif dengan salat berjamaah lima waktu maupun berbagai kegiatan pengajian hingga sekarang.

Dulu, setiap sore KH Badrus mengajar mengaji di langgar tersebut dan di rumahnya yang berada di selatan langgar. Jamaah yang datang dari berbagai daerah di Malang.

Beberapa santrinya yang menjadi tokoh masyarakat seperti KH Oesman Mansur yang merupakan Pendiri Universitas Islam Malang (Unisma) dan H Thoha Mashudi yang merupakan mantan anggota DPRD Kota Malang.

Pendekatan yang dipakai KH Badrus untuk mengajarkan Islam dikenal sangat sabar. Sarimun mengatakan, tidak sedikit santri KH Badrus yang merupakan tukang becak di sekitar langgar.

”Meskipun mereka awalnya tidak salat, tapi mereka senang datang dan mendengarkan pengajian KH Badrus, sampai akhirnya mereka ikut salat,” ungkapnya.

Hingga pada 1960, KH Badrus menjadi pengurus takmir di Masjid Agung Jami’ Kota Malang. Dan langgar KH Badrussalam diteruskan oleh generasi yang lain. KH Badrus tidak pernah absen menjadi Imam Rowatib di Masjid Agung Jami.

Baca Juga: Jejak penyebaran Islam di Malang Raya (23): KH Masduqi Berperan Mengubah Stigma Negatif Mergosono

Apabila ada khotib atau pengisi pengajian yang berhalangan hadir, tanpa keberatan KH Badrus akan menggantikannya.

Kia yang alim di bidang fiqih dan tasawuf tersebut, sempat ditawari menjadi Ketua Pengadilan Agama (PA) Malang pada 1970. Namun beliau menolak dan lebih memilih berdakwah serta mengajar di madrasah.

KH Badrus dikisahkan tidak terlalu memikirkan dunia. Sampai-sampai harus tinggal di rumah mertuanya untuk waktu lama.

Baru sekitar tahun 1971 memiliki rumah sendiri di daerah Talun, Kota Malang. Hingga 1974 KH Badrus jatuh sakit dan meninggal dunia di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (21) : KH Moh. Said Ikut Menggembleng Dua Laskar

”Makamnya ada di pemakaman umum Kasin,” tutur salah satu Imam Rawatib di Langgar KH Badrussalam Muhammad Rusdi.

Pada Juli 2024, digelar haul pertama untuk memperingati 50 tahun wafatnya KH Badrussalam.

”Itu inisiatif kami dan anakanak muda di sini,” tutur Rusdi.

Dia mengatakan, meski hanya mengundang beberapa keluarga dan santri saja, namun jamaah yang hadir sampai 300 orang lebih.

”Rencananya, setelah Idul Fitri nanti akan kami gelar haul lagi,” ungkapnya. (*/by)

Editor : Aditya Novrian
#penyebaran #islam #malang #jejak