Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (28) Syiar dari Ulama Surabaya Tetap Berlanjut di Jabung

Bayu Mulya Putra • Jumat, 28 Maret 2025 | 19:48 WIB

DIBANGUN 1913: Kubah Masjid Hizbullah pertama kali mendapat renovasi pada 1951. Masjid itu dulu menjadi tempat dakwah Kiai Mas Harun
DIBANGUN 1913: Kubah Masjid Hizbullah pertama kali mendapat renovasi pada 1951. Masjid itu dulu menjadi tempat dakwah Kiai Mas Harun

Setiap salat wajib, Masjid Hizbullah di Dusun Putukrejo, Desa Kemantren, Kecamatan Jabung dipenuhi jamaah. Itu merupakan masjid tertua di desa tersebut.

Di bagian luar masjid, tercantum keterangan bahwa masjid itu didirikan Kiai Mas Harun pada 1913. Selanjutnya direnovasi pertama kali oleh KH Abdul Mu’thi pada 1951.

Masjid itu juga yang pertama kali dijadikan masyarakat untuk menuntut ilmu agama Islam. 

Di dalam masjid itu, masih ada empat tiang yang dipertahankan sejak awal pembangunan. Desa Kemantren awalnya berupa hutan belantara.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (27) Desa Ngadas Jadi Simbol Keberagaman Agama

Kemudian, ada orang yang disebut Sumantri datang dan babat alas di Dusun Putukrejo. Tokoh masyarakat menyebutnya Mbah Mantri.

”Tahun pastinya beliau datang, saya tidak yakin. Tetapi, dari informasi tokoh-tokoh masyarakat, beliau babat alas sekitar 1860-an,” ujar Sekretaris Desa (Sekdes) Kemantren M. Cahyo Wibowo.

Seiring berjalannya waktu, datang pemuka agama dari Surabaya yang bernama Kiai Marsukin atau Mas Harun.

”Beliau pertama kali mengembangkan Islam di Desa Kemantren ini dengan mendirikan Masjid Hizbullah. Orang-orang dulu ngajinya di sana,” kata Bowo.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (26) : Lanjutkan Dakwah Suami, Nyai Rohmah Dirikan Ponpes

Sumber lain mengatakan bahwa Kiai Mas Harun mulai menyebarkan Islam pada zaman Hindu-Buddha. Dia berasal dari Kesultanan Islam yang berpusat di Sidoresmo atau Krian.

”Kemudian, Buyut Harun diutus ke Malang. Untuk tahunnya saya tidak tahu pasti,” kata Cicit Kiai Mas Harun Agus Ubaidillah Alifi Atho’ saat ditemui Selasa lalu (25/3).

Saat diutus ke Malang, pria bernama asli Harun itu ditantang perang oleh tiga kepala perampok. Bila tiga kepala perampok itu kalah, mereka bersedia masuk Islam. Setelah pertempuran, tiga perampok itu kalah. Namun, hanya dua orang yang bersedia masuk Islam.

Dalam pertempuran itu, saudara Harun yang bernama Salibah dan Selaga turut membantu. Dalam mengajarkan Islam, Harun mendirikan tempat salat.

Pada masa itu, hanya berbentuk geladak yang dibangun di atas kolam dengan ukuran 6 sampai 8 meter persegi.

Tempat itu hanya muat dijadikan tempat ibadah untuk 12 orang saja. Selain salat, tempat itu juga dimanfaatkan sebagai tempat belajar mengaji.

”Beliau dakwah dari rumah ke rumah, kadang juga berkumpul di rumahnya setiap malam untuk mengaji,” kata Agus.

Islam pun semakin berkembang di sana. Begitu Kiai Mas Harun wafat, perjuangannya dalam menyiarkan Islam dilanjutkan salah satu putranya yang bernama Abdul Mu’thi.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (25), Tukang Becak Ikut Mengaji ke KH Badrussalam

Dia juga yang membangun masjid menjadi lebih layak. Kolam yang sebelumnya didirikan geladak, diuruk dan dikembangkan menjadi bangunan masjid sekaligus dijadikan pondok kampung.

Di bagian depan masjid, tertulis bahwa renovasi pertama dilakukan pada 1953. Pengajian rutin dilakukan setiap hari di pondok tersebut.

Selain itu, setiap sepekan sekali, tepatnya pada hari Jumat, santri akan berkumpul di sana. Tidak hanya warga setempat, warga dari luar kecamatan pun turut hadir dalam pengajian itu.

”Cara dakwah beliau pun sama dengan Buyut Harun. Beliau akan merangkul orang terlebih dahulu, sehingga tidak terkesan menggurui,” ucap pria berusia 39 tahun itu.

KH Abdul Mu’thi juga menjadi bagian dari Laskar Hizbullah yang turut berjuang melawan tentara Belanda.

Baca Juga: SMP Islam Almaarif 01 Singosari Terima Kunjungan Studi Tiru MGBK Kabupaten Lumajang

Pada masa itu, laskar tersebut memiliki tiga basecamp. Yakni di Singosari, Jabung (Kemantren), dan Kacuk.

”Ada tiga pesan utama dari kakek saya (KH Abdul Mu’thi). Yaitu anakputuku betah melek. Dalam artian, tidak hanya melek matanya, tetapi juga melek hatinya. Kemudian, anakputuku tidak boleh makan barang sedekahan, dan anak-putuku tidak boleh meninggalkan salat malam,” kata Agus.

Agama Islam pun semakin berkembang di Desa Kemantren. Sejak 1990-an, pondok pesantren (ponpes) lain mulai berdiri.

Hingga saat ini, ada tiga sampai empat ponpes yang berdiri di desa tersebut. Sedangkan, jumlah santrinya sudah ada ratusan. (*/by)

 

 

 

Editor : Aditya Novrian
#penyebaran #agama #islam #malang #jejak