KEPANJEN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mempunyai cara baru untuk menanggulangi stunting (pertumbuhan terhambat). Salah satunya melalui penanaman ribuan kelor di Bumi Kanjuruhan. Cara tersebut masuk dalam program Moringa Against Malnutrition and Climate Change (Miracle).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang Ahmad Dzulfikar Nurrahman mengatakan, program Miracle merupakan upaya mewujudkan ketahanan pangan dan perubahan iklim. Salah satu wujud realisasi program tersebut adalah penanaman moringa oleifera atau biasa disebut kelor.
“Kelor bisa dimanfaatkan sebagai penambahan gizi untuk anak-anak, terutama yang terkena stunting,” ujar pria yang akrab disapa Afi itu.
Dia mengatakan, kelor mengandung protein tinggi, termasuk asam amino esensial yang penting untuk memaksimalkan pertumbuhan anak. Selain itu, dia menambahkan, kelor juga penting untuk pertumbuhan sel dan kesehatan mata.
Baca Juga: Pemerintahan Kabupaten Malang Berencana Tanam Bambu Petung di TPA Paras
Kandungan zat besi dan vitamin C dalam kelor diyakini dapat membantu meningkatkan penyerapan nutrisi dari makanan lain. Dengan kandungan antioksidan dan vitamin C, kelor juga meningkatkan daya tahan tubuh anak agar tidak mudah sakit.
“Kami tidak hanya menyediakan bibit kelor. Nantinya kami juga ada sosialisasi pemanfaatan produk-produk turunan dari daun kelor,” kata pejabat eselon III A Pemkab Malang itu.
Di antara produk turunan yang dimaksud Afi adalah tepung kelor. Kemudian tepung tersebut diolah menjadi makanan ringan yang dibagikan kepada anak-anak stunting. Afi mengatakan, sudah 50 ribu bibit kelor yang ditanam. Penanaman dimulai sejak Desember 2024 lalu oleh beberapa pelaku usaha, di antaranya PT Cheil Jedang Indonesia dan Greenfield.
“Kami sebar ke seluruh kecamatan yang nantinya didistribusikan ke desa dengan prioritas stunting,” katanya.
Baca Juga: Pegiat Pariwisata Tanam Ratusan Mangrove di Pantai Sugu
”Saat ini masih ada 9000-an balita stunting yang perlu dukungan penambahan gizi,” tambah pria yang merangkap Sekretaris DLH Kabupaten Malang itu.
Sebagai informasi, angka stunting masih fluktuatif dengan angka yang cenderung besar. Pada Februari 2024 lalu, prevalensi stunting mencapai 6,43 persen. Dengan rincian, 9.259 anak stunting yang diukur dari 144.054 anak. Kemudian pada Agustus 2024, prevalensi menurun menjadi 6,15 persen. Dengan rincian, ada 9.522 anak stunting yang diukur dari 154.791 anak.
“Target kami, kalau bisa ya zero stunting pada 2028 mendatang,” ujar Bupati Malang H M. Sanusi.
Orang nomor satu di Pemkab Malang itu berharap upaya pemerintah menanggulangi stunting melalui kelor efektif, sehingga 2028 tidak ada lagi balita yang terkena stunting. Pihaknya memberi perhatian lebih terhadap penanggulangan stunting karena menyangkut sumber daya manusia (SDM). (yun/dan)
Editor : Aditya Novrian