Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ekspor Malang Raya ke AS Terancam Anjlok

Fathoni Prakarsa Nanda • Kamis, 10 April 2025 | 17:32 WIB

Keterangan kinerja ekspor ke AS (Rio/ Radar Malang).
Keterangan kinerja ekspor ke AS (Rio/ Radar Malang).

Imbas Pengenaan Tarif Baru 32 Persen

MALANG RAYA – Kebijakan tarif impor 32 persen untuk Indonesia yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diperkirakan berdampak ke Malang Raya.

Ekspor yang dilakukan para pelaku industri maupun UMKM ke negeri Paman Sam itu terancam anjlok.

Bahkan bisa memberikan tekanan ke sektor industri maupun lapangan kerja.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang mengatakan, saat ini memang belum ada keluhan dari pelaku ekspor ke AS dari wilayah Kabupaten Malang.

Sebab, sejak ketentuan itu diberlakukan belum ada pengiriman ekspor dari Kabupaten Malang ke AS.

”Pengaruh tarif impor baru itu akan terlihat pada akhir triwulan kedua 2025,” ujarnya.

Baca Juga: Berdaya di Desa, UMKM Gula Aren Ini Berhasil Ekspor Tembus Pasar Global berkat BRI

Berdasar laporan ekspor yang diterima Disperindag Kabupaten Malang, dalam kurun waktu Januari-Maret 2025 terdapat lima pelaku usaha atau perusahaan eksportir yang mengirim produknya ke AS.

Yakni usaha rokok, bungkus rokok, kopi, mebel, dan plywood.

Ada juga ada satu pelaku usaha di bidang tanaman hias yang ekspor ke AS, yakni anggrek.

Tapi nilainya belum masuk laporan ke disperindag.

Artinya, jika ditotal ada enam pelaku usaha dari Kabupaten Malang yang awal tahun ini sudah melakukan ekspor produk ke AS.

”Nilai ekspor triwulan pertama tahun 2025 dari Kabupaten Malang ke AS sekitar 1,29 juta USD atau Rp 21,67 miliar (kurs Rp 16.800),” ucap pejabat eselon III Pemkab Malang itu.

Seandainya nilai ekspor ke AS pada triwulan kedua menurun, maka bisa disimpulkan bahwa tarif baru yang diterapkan Presiden Donald Trump itu berpengaruh signifikan.

Tapi, Kamilin berharap nilai ekspor akan tetap stabil.

Sebab barang yang diekspor memiliki keunggulan tersendiri.

Seperti nilai estetika dan fungsional.

Sehingga, meskipun bea masuknya tinggi, permintaan dari AS pun ikut tinggi.

Dia menambahkan, secara nasional pemerintah akan mengedepankan jalur negosiasi dan hubungan bilateral terhadap kebijakan impor AS.

Sedangkan Pemkab Malang masih dalam posisi menunggu arahan pembahasan dampak tarif impor AS terhadap produk di Jawa Timur oleh Disperindag Provinsi Jatim.

Untuk sementara, penguatan akan dilakukan terhadap pelaku usaha, khususnya yang masih skala kecil.

Baca Juga: BRI Dukung Regulasi Baru DHE SDA, Optimalkan Devisa Ekspor dan Perkuat Stabilitas Ekonomi

Pihaknya akan memfasilitasi dalam bentuk pembinaan dan pengembangan produk unggulan.

“Kami juga akan mengarahkan pencarian buyer selain AS yang mungkin memiliki nilai profit lebih. Jika perusahaan besar yang aktif ekspor, sudah otomatis akan melakukan komunikasi internal dengan buyer mereka,” pungkasnya.

Biaya Meningkat Dari Kota Malang, pemerintah mencatat belum ada industri maupun UMKM melakukan ekspor ke AS.

Karena itu, tidak ada keluhan mengenai tarif impor baru yang diberlakukan AS untuk Indonesia.

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Eko Sri Yuliadi mengatakan, di Kota Malang terdapat 25 UMKM yang melakukan ekspor.

Negara yang menjadi tujuan antara lain Jepang, Malaysia, Taiwan, Hongkong, hingga Jerman.

Belum ada yang menyasar pasar AS.

”Kebanyakan produk UMKM yang berhasil ekspor adalah hasil olahan pertanian, kriya, dan juga tekstil. Nilainya sekitar Rp 5 miliar,” tutur Eko.

Berdasar pantauan Kantor Bea Cukai Malang, selama dua tahun terakhir hanya terdapat dua UMKM binaan yang berhasil mengirim produk ke AS.

Yakni tanaman anggrek dan fiberglass replika body mobil.

”UMKM yang mengekspor anggrek berasal dari wilayah Singosari, Kabupaten Malang. Mereka melakukan ekspor pada September 2024 dengan nilai sebesar USD 6.541,” ungkap Tim Kerja Klinik Ekspor Bea Cukai Malang Ricky Wijaya.

Sementara itu, fiberglass replika bodi mobil diekspor oleh pelaku usaha dari Kota Batu pada September 2023 dengan nilai Rp 107.405.900.

Produk tersebut cukup menarik perhatian karena segmennya tergolong khusus.

Baca Juga: Lembaga Pembiyaan Ekspor Indonesia Korupsi Hingga Rugikan Rp 11,7 Triliun, Ini Penjelasannya

”Tahun ini ada satu UMKM yang dalam tahap persiapan produk untuk ekspor ke Amerika. Mereka bahkan telah melakukan pertemuan dengan buyer dari Los Angeles pada Januari lalu,” imbuhnya.

Ricky mengakui, tarif impor baru yang diterapkan AS akan berpengaruh pada ongkos produksi dan keuntungan pelaku usaha.

Kemungkinan mereka akan semakin sulit untuk mendapat pesanan dari AS.

Tapi, untuk saat ini masih belum terasa karena mereka belum mengirim produk.

”Sekarang pelaku usaha mulai cari pasar selain AS,” tambahnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Kota Batu.

Hingga kini belum ada keluhan akibat tarif baru impor yang diterapkan AS untuk Indonesia.

Apalagi tidak banyak pelaku usaha asal Kota Batu yang mengirim produk ke AS.

”Memang pernah ada, namun itu hanya insidentil saja. Tidak dilanjutkan,” kata Kabid Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan Kota Batu Nurbianto Puji.

Contohnya MBA Workshop asal Tlekung, Kecamatan Junrejo, pada 2023 lalu.

Mereka merealisasikan ekspor perdana fiberglass untuk bodi mobil ke AS.

Ekspor perdana yang dilakukan sebanyak satu kontainer 20 feet dengan berat total 550 kilogram.

Pria yang akrab disapa Kentor itu menyebut beberapa faktor yang menyebabkan susahnya produk lokal Kota Batu menembus pasar AS.

Baca Juga: BRI Buka Jalan Pengusaha UMKM Rajut Tembus Pasar Ekspor Lewat UMKM EXPO(RT)

Salah satunya regulasi yang sangat ketat.

Meliputi kesehatan dan keamanan produk yang diekspor.

“Ditambah kapasitas produksi UMKM kami relatif kecil, sehingga kadang belum sanggup,” jelasnya.

Tingginya biaya logistik juga menjadi tantangan besar para UMKM yang hendak melakukan ekspor ke AS.

Pada saat yang sama, banyak wilayah lain yang lebih mumpuni secara distribusi ke pasar internasional.

Karena itu, pelaku usaha banyak yang akhirnya memilih pasar ekspor selain ke AS. (yun/dur/ori/fat)

Editor : A. Nugroho
#UMKM #Malang Raya #ekonomi global 2025 #ekspor indonesia #Tarif impor AS #dampak trump bagi indonesia