SUASANA Pantai Balaikambang di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur berubah mencekam begitu terdengar jeritan minta tolong dari salah satu pengunjung.
Dengan cepat semua wisatawan mengarahkan pandangan ke arah lima pengunjung yang terseret ombak.
Dua korban bisa diselamatkan, sementara tiga lainnya menghilang dari pandangan mata. Dua hari berselang, tiga korban yang masih berusia 15 tahun ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
Mereka adalah Lutfi Munawar, Yasser Arafat Inninawa, dan Fahmi Sirilah. Sedangkan dua korban yang selamat adalah Kayy Yugo, 15, dan Andi Khoirul Raffi, 16.
Baca Juga: Estetik Dulu, Etika Belakangan : Alam Jadi Korban Pendaki Masa Kini
Ridho Candra Hidayat menjelaskan, siang itu, sekitar pukul 13.00, dia dan Helena baru 10 menit berenang di tepian Pantai Balekambang.
Keduanya baru saja melakukan perjalanan dari Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Ridho yang merupakan warga Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo berlibur ke Malang bersama kakak dan temannya setelah mendaftar Taruna Akademi TNI Angkatan Udara di Lanud Abdulrachman Saleh.
Sementara Helena adalah teman kakak Ridho dari Jerman yang kebetulan berlibur ke Indonesia. Begitu mendengar teriakan minta tolong, Helena bertanya kepada Ridho apakah masih memungkinkan untuk menolong mereka.
Posisi keduanya saat itu sekitar 200 meter dari para korban yang terseret ombak. Ridho sebenarnya tidak yakin, tapi dia memutuskan untuk mengajak Helena mendekati titik awal tempat korban terseret ombak.
Baca Juga: Enam Korban Longsor Cangar Sempat Dievakuasi ke Batu
”Yang pertama berenang ke tengah dulu Helena,” cerita Ridho.
Dia mengikuti Helena dari belakang. Melihat Helena berhasil meraih korban, pemuda yang memiliki tinggi badan 174 cm itu berhenti sejenak.
Dia memilih mengawasi dari jarak sekitar 10 meter. Di luar dugaan, Ridho melihat kepanikan korban malah menyeret Helena ikut tenggelam.
Ridho pun memutuskan membantu Helena dan korban dalam menjaga keseimbangan. Sekitar lima menit berselang, korban bisa tenang dan berhasil dibawa ke karang yang dangkal. Tapi, saat berusaha naik ke karang, datang lagi ombak yang besar.
Korban berhasil meraih karang, sementara Helena dan Ridho justru kembali terseret ke tengah laut. Keduanya pun terombangambing di tengah ombak yang besar. Karena sudah terlalu ke tengah perairan, Ridho meminta Helena menghemat tenaga hingga pertolongan datang.
Keduanya pun memilih berenang dengan teknik mengambang di permukaan saja. Sekitar 10 menit menunggu pertolongan. Pergelangan kaki kiri Ridho yang pernah cedera saat bermain voli setahun lalu mulai terasa nyeri.
”Saat itu saya berusaha membuat pelampung dari celana. Teringat salah satu video tutorial menghadapi keadaan darurat yang pernah saya tonton,” lanjut Ridho.
Saat celana Ridho berhasil dilepas, ternyata malah terseret arus laut karena ada perbedaan kecepatan arus yang cukup signifikan.
Baca Juga: Korban Petasan Pujon Kabupaten Malang Jalani Rawat Jalan
Helena yang pernah mengikuti pelatihan menghadapi situasi darurat mengajak Ridho untuk membuat posisi bertahan.
Yaitu menjadikan Ridho pelampung, sementara Helena yang mempertahankan posisi dengan berenang karena kaki Ridho sudah hampir tidak bisa digerakkan. Ridho segera mengambil posisi telentang di permukaan laut.
Helena memegangi tengkuk dan leher Ridho. Keduanya dalam posisi seperti itu lebih dari 10 menit.
Akhirnya Ridho kehilangan kesadaran karena terlalu banyak meminum air laut. Tenaga Helena juga sudah terkuras habis. Beruntung pertolongan datang tepat waktu.
Baca Juga: Ratusan Orang Jadi Korban Investasi Bodong Usaha Pentol
Ridho pun mulai sadar kembali saat naik kapal penyelamat dari Tim SAR. Sesampainya di tepi pantai, keduanya langsung mendapat pertolongan pertama dan diberi oksigen.
Setelah membaik, Ridho dievakuasi menuju puskesmas terdekat untuk perawatan medis karena masih sangat lemas. Sementara Helena dievakuasi belakangan karena kondisinya lebih stabil.
Keesokan harinya, yakni 10 April 2025, Ridho dan Helena pulang ke Probolinggo untuk pulang. Helena memang tinggal di rumah Ridho selama liburan di Probolinggo dan Malang. Mereka pulang tanpa penyesalan karena setidaknya berhasil menolong satu korban.
“Tapi, saat di rumah, Helena sempat mengurung diri dua jam karena bersedih,” papar Ridho.
Itu karena dia mendengar ternyata masih ada tiga korban lain yang belum ditemukan. Hingga kini pun Ridho dan Helena tidak tahu siapa yang mereka selamatkan karena masih takut melihat berita. (*/fat)
Editor : Aditya Novrian