MALANG RAYA - Selama tiga tahun terakhir, Harapan Lama Sekolah (HLS) di Malang Raya meningkat tipis.
Baik di Kota Malang, Kabupaten Malang, maupun Kota Batu sudah di atas 12 tahun.
Tapi masih perlu ditingkatkan untuk agar mereka memiliki peluang menuntaskan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.
Misalnya di Kota Malang, selama tiga tahun terakhir HLS berada di kisaran 15 tahun.
Artinya, anak yang berusia 7 tahun diperkirakan akan bersekolah selama 15 tahun hingga jenjang perkuliahan tahun ketiga.
Namun, capaian tersebut masih harus ditingkatkan lagi.
”Sebab masih ada anak-anak yang enggan melanjutkan studi karena faktor ekonomi,” ucap Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Muflikh Adhim.
Kendala ekonomi memang menjadi faktor utama anak tidak melanjutkan sekolah.
Tapi ada juga faktor lain yang ikut mempengaruhi.
Seperti pola pikir orang tua dan akses pendidikan yang minim di beberapa wilayah.
Karena itu, Pemkot Malang terus berupaya untuk memastikan seluruh anak berusia 7 sampai 12 tahun bisa bersekolah.
Misalnya dengan melakukan sosialisasi rutin.
Kemudian memberikan bantuan bagi para pelajar dari keluarga prasejahtera.
Beasiswa diberikan kepada pelajar di lembaga pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi.
Misalnya, beasiswa SD sebesar Rp 220 ribu per bulan dan SMP sebesar Rp 330 ribu per bulan.
Pemberian beasiswa itu hasil kerja sama pemkot dengan Baznas. Ada pula beasiswa untuk SMA sederajat dan mahasiswa.
Setiap tahun, kuota beasiswa mencapai 500 sampai 600 pelajar.
Namun, upaya yang dilakukan pemkot itu membutuhkan pemikiran yang sejalan dengan orang tua pelajar.
Jika tidak ada dukungan, maka hasilnya tentu percuma.
Yang juga membutuhkan perhatian adalah Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) di Kota Malang.
Hingga tahun ini angkanya 11,14 tahun.
Artinya, rata-rata penduduk Kota Malang yang sudah berusia 25 tahun ke atas hanya mengenyam pendidikan sampai kelas XI SMA.
Kendala Kesadaran Orang Tua HLS di Kabupaten Malang juga meningkat tipis dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2022 lalu berada di angka 13,38 tahun.
Kemudian naik 0,10 tahun pada 2023 menjadi 13,38 tahun.
Sedangkan tahun ini kembali meningkat menjadi 13,49 tahun.
Artinya, tahun ini HLS anak-anak kabupaten Malang sudah mencapai semester tahun pertama pendidikan tinggi.
“Peningkatan HLS berjalan lambat karena perhitungannya dari sisi pendidikan formal non formal,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Suwadji.
Padahal, di Kabupaten Malang banyak daerah dengan basis pendidikan informal seperti pondok pesantren.
Kawasan pinggiran di Kabupaten Malang juga berpengaruh pada peningkatan HLS.
Di kawasan pinggiran, kendala peningkatan HLS disebabkan masih ada anak yang bekerja membantu ekonomi keluarga.
Selain itu, angka pernikahan dini di Kabupaten Malang juga cukup tinggi.
Masalah lainnya adalah kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan 12 tahun masih belum merata.
Beberapa upaya dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dengan ikut meningkatkan Rata-rata Lama Sekolah (RLS).
Dinas Pendidikan mencatat RLS di Kabupaten Malang dalam tiga tahun terakhir juga meningkat tipis.
Rata-rata penduduk berusia 25 tahun ke atas hanya mengenyam pendidikan sampai kelas VII SMP atau yang sederajat.
Pada 2022, RLS di Kabupaten Malang hanya mencapai angka 7,68 tahun.
Kemudian pada 2023 naik 0,07 tahun menjadi 7,75 tahun. Sementara tahun ini hanya naik 0,05 tahun menjadi 7,8 tahun.
Berkaca dari rendahnya maHarapan Lama Sekolah Meningkat Tipis syarakat yang mengakses pendidikan pada tahun-tahun lalu, Pemkab membuat sejumlah kebijakan.
Mulai dari menambah akses pendidikan dan memastikan semua usia sekolah mendapatkan pendidikan melalui jalur formal maupun non formal.
Program yang sedang digencarkan saat ini adalah Saber ATS (sapu bersih anak tidak sekolah).
“Kami berusaha menjangkau anak-anak usia 7-18 tahun yang putus sekolah atau tidak pernah sekolah,” lanjut Suwadji.
Pendataan dilakukan secara aktif dan berjenjang melalui RT/RW, kepala desa, dan sekolah. Untuk beberapa calon siswa dilakukan jemput bola berupa kunjungan rumah.
Tujuannya untuk membujuk anak atau orang tua agar mau meneruskan sekolah.
Jajaran saber ATS juga menangani masyarakat yang sudah melewati usia pendidikan formal.
Mereka diberikan pendidikan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang saat berjumlah 46 unit.
Berbagai program disediakan, mulai kesetaraan pendidikan hingga pelatihan dan keterampilan.
Ragam Stimulus di Kota Batu Di Kota Batu, pertumbuhan RLS juga cenderung rendah.
Tahun ini hanya sampai 9,87 tahun. Artinya, rata-rata penduduk berusia 25 tahun ke atas hanya mengenyam pendidikan sampai kelas IX SMP.
Sementara HLS di Kota Batu tahun ini menunjukkan angka 14,58.
Menunjukkan bahwa anak-anak memiliki peluang menempuh pendidikan hingga tingkat diploma.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu M.
Chori mengaku kerap menemukan fakta rendahnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan. Sehingga mereka membiarkan anaknya bekerja dan tidak melanjutkan sekolah.
“Apalagi di Kota Batu ini wilayah pariwisata,” tegasnya.
Karena itu, Chori telah menyusun sejumlah strategi untuk terus memacu HLS. Salah satunya dengan getol menekankan program wajib belajar 12 tahun.
Tak hanya kepada siswa, tapi juga kepada orang tua agar terus memotivasi anaknya untuk melanjutkan pendidikan.
“Sekolah negeri juga sudah gratis, sebenarnya tidak ada alasan biaya,” ungkapnya.
Pemkot Batu juga telah menggelontorkan program beasiswa setiap tahun.
Sebagai contoh, beasiswa bagi anak kurang mampu senilai Rp 5 juta per tahun.
Kemudian bantuan pendidikan kepada anak yang berprestasi sebesar Rp 4 juta per tahun.
“Sekarang ada program seribu sarjana yang digagas wali kota baru,” ujarnya.
Program itu diharapkan dapat memotivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Cara lainnya adalah memberi fasilitas langsung untuk pendidikan kesetaraan.
Misalnya, siswa yang tidak ingin menempuh studi di bangku sekolah diarahkan ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) gratis di seluruh kecamatan.
Seluruh biaya ditangani langsung oleh anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Saat ini Pemkot Batu juga menyediakan angkutan pelajar (apel) gratis.
Angkutan tersebut mampu menjangkau seluruh wilayah di Kota Batu.
“Jadi sebenarnya tidak ada lagi alasan kesulitan siswa untuk menjangkau sekolah karena terkendala jarak,” kata dia.
Dengan tingginya RLS, Chori berharap dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat Kota Batu.
Khususnya dalam menekan tren pengangguran dan angka kemiskinan.
“Tahun ini kami targetkan RLS bisa menyentuh 10,00 tahun,” tutup mantan Kepala BKAD Kota Batu itu. (mel/yun/ori/fat)
Editor : Aditya Novrian