Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Waspadai Penurunan Debit Mata Air, Terbanyak di Kota Batu, Diduga akibat Alih Fungsi Lahan

Fathoni Prakarsa Nanda • Selasa, 6 Mei 2025 | 17:41 WIB
Grafis pantauan debit mata air di malang raya
Grafis pantauan debit mata air di malang raya

MALANG RAYA - Fenomena penurunan debit sumber atau mata air mulai terjadi di Malang Raya.

Yang sudah teridentifikasi adalah penurunan debit air di Sumber Darmi di Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu.

Selama kurun waktu 1,5 tahun terakhir turun dari 42 liter per detik menjadi 32 liter per detik. 

Among Tirto Ikhwan Hadi mengatakan, penurunan debit mata air diduga terus berlangsung.

Pihaknya menggunakan enam sumber untuk menyuplai kebutuhan air bersih masyarakat.

Yakni Sumber Darmi, Sumber Kasinan, Sumber Torongbelok, Sumber Gemulo, Sumber Banyunin, dan Sumber Ngesong.

Ratarata sudah mengalami penurunan debit lima liter per detik.

”Paling parah adalah Sumber Darmi di Desa Oro-oro Ombo,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Bedong itu menjelaskan bahwa penurunan debit mata air disebabkan beberapa faktor.

Selain perubahan iklim (kemarau yang lebih panjang), alih fungsi lahan bisa menjadi pemicu penurunan kemampuan dalam menyerap dan menampung air hujan.

Kasi Perencanaan dan Pengembangan Teknik Perumdam Among Tirto Kota Batu Wahyudin menambahkan, penyebab lain menurunnya debit mata air adalah maraknya pengeboran air tanah.

Namun dia enggan menyebut pihak yang terindikasi melakukan pengeboran.

“Yang jelas dikelola pihak swasta, kami tidak tahu pasti,” tegasnya.

Beberapa faktor penyebab itu tidak terjadi dalam jangka waktu pendek.

Alih fungsi lahan akan terasa berdampak pada penurunan debit mata air setelah 1,5 hingga dua tahun kalau faktor itu terjadi secara kontinu.

Perlu waktu serupa untuk mengembalikan kondisi seperti semula.

Faktor lain yang juga menjadi pemicu penurunan debit mata air adalah masih diberlakukannya keran umum untuk warga.

Wahyudin menyebut setidaknya ada enam keran umum yang digunakan sekitar 478 rumah di Desa Oro-Oro Ombo.

“Keran umum ini tidak ada standar meteran dari PDAM, sehingga kami tidak bisa mengontrol itu,” imbuh dia.

Saat ini, lanjut Wahyudin, penurunan debit air di Sumber Darmi mulai dirasakan dampaknya dalam hal pelayanan air bersih.

Ada sekitar 800 sampai 1.000 rumah tangga di Desa Oro-Oro Ombo yang terkena pembatasan layanan.

Baca Juga: Pelatih Tuntut Pemain Unggul FC Malang untuk Jaga Asupan Air

Yang semula air  mengalir selama 24 jam nonstop dikurangi menjadi 10 jam hingga 5 jam saja per hari.

”Kami atur agar setiap rumah masih bisa merasakan air bersih,” tutur dia.

Kondisi itu pula yang menyebabkan Perumdam Among Tirta tak menambah pelanggan baru tahun ini.

Waspadai Kemarau Sementara itu, penurunan debit mata air di Kabupaten Malang rutin terjadi pada musim kemarau.

Kondisi itu sangat menyulitkan pasokan air bersih untuk warga.

Pemkab Malang sampai harus melakukan dropping air bersih setiap musim kemarau ke sejumlah lokasi.

Umbul Sengkaring di Desa Tulungrejo, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, bahkan sempat mengering total.

Menurut Kepala Bidang Kedaruratan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan, peristiwa itu terjadi pada Oktober 2024 lalu.

Penyebabnya adalah longsor di dalam gua yang menutup aliran air.

Debit air Umbul Sengkaring sekitar 143 liter per detik.

Sumber yang sudah berusia sekitar 100 tahun itu selalu cukup digunakan oleh sekitar 15 ribu warga.

Penurunan debit air berlangsung selama hampir dua bulan musim kemarau sampai musim hujan datang.

Setelah dilakukan penanganan, debit airnya kembali normal.

Selain Umbul Sengkaring, ada juga sumber lain yang mengalami penurunan debit air.

Misalnya di Desa Ringinkembar dan Desa Klepu, Kecamatan Sumbermanjing wetan.

Setiap puncak musim kemarau, sekitar 1.300 kepala keluarga di kawasan tersebut kesulitan mendapatkan air.

Mereka mengandalkan dropping air bersih dari Pemkab Malang.

Untungnya jumlah mata air di Kabupaten Malang sangat banyak.

Berdasar data Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Malang Tahun 2021- 2026, terdapat 588 mata air dengan debit 1 sampai di atas 200 liter per detik.

Debit tertinggi berada di Sumber Wendit, Kecamatan Pakis, yang mencapai 1.100 liter per detik.

Potensi mata air juga menyebar di wilayah aliran Sungai Brantas.

Pendataan oleh Perum Jasa Tirta (PJT) I pada Oktober sampai Desember 2024 menunjukkan terdapat 163 mata air yang ada di Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang.

”Terdiri dari 40 mata air dan 123 titik sumur gali,” jelas Kepala Sub Divisi Litbang PJT I Ivania Aestrianingsih.

Namun pihaknya tetap mewaspadai potensi penurunan debit air.

Menurut Ivania, ada enam penyebab yang membuat debit air menurun.

Yakni penggunaan lahan yang semakin terbuka, sehingga berpengaruh terhadap kerentanan mata air.

Selanjutnya adalah kondisi lereng yang semakin curam.

Hal ini membuat mata air semakin rentan karena air hujan lebih banyak melimpas.

Besaran curah hujan tahunan juga bisa berpengaruh pada debit air dan permeabilitas batuan.

Kemudian penambahan jumlah penduduk hingga perubahan tata guna lahan yang mengakibatkan fungsi daerah aliran sungai untuk menyimpan air menjadi tidak maksimal.

Khusus untuk Kota Malang, tidak ada sumber atau mata air yang digunakan senbagai pasokan air bersih.

Sejak dulu, Perumda Tugu Tirta (PDAM) Kota Malang mengandalkan pasokan air bersih dari dua sumber di Kota Batu dan empat sumber di Kabupaten Malang.

Direktur Teknik Perumda Tugu Tirta Mohammad Fauzan Indrawan menuturkan, hingga kini pasokan air terbesar berasal dari Sumber Wendit.

Selama ini tidak ada penurunan pasokan dari sumber di Kabupaten Malang maupun Kota Batu.

”Di Sumber Wendit, Sumber Pitu, dan empat sumber lain masih aman. Meskipun musim kemarau, tidak ada penurunan pasokan. Misalnya dari Wendit, pasokan air tetap 1.080 liter per detik,” tutur Fauzan.

PDAM Kota Malang juga telah mengembangkan 10 Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) di dalam kota.

Tapi, produksi air baku per titik SPAM tidak terlalu besar.

Rata-rata hanya 10 sampai 20 liter air bersih per detik. (ori/mel/adk/fat)

Editor : Aditya Novrian
#Kota Batu #menurun #Malang Raya #tanah #debit mata air turun #pengeboran 1.000 sumur #debit air #alih fungsi lahan