Mereka menjual aneka minuman seperti kopi, teh, dan coklat dalam gelas plastik, serta sering menambahkan es batu atau krimer sesuai pesanan pelanggan.
Istilah ini muncul sebagai plesetan dari brand kopi premium Starbucks, yang identik dengan gaya hidup modern dan harga yang relatif mahal. Sementara itu, Starling justru hadir sebagai representasi kopi yang merakyat karena murah, mudah dijangkau, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama di sekitar perkantoran, kampus, dan jalanan kota.
Fenomena ini berkembang pesat sekitar tahun 2010-an, seiring meningkatnya mobilitas pekerja urban dan gaya hidup cepat saji. Para pedagang Starling biasanya mangkal di depan gedung perkantoran, halte bus, dan taman kota, melayani pelanggan yang ingin menikmati kopi cepat dan murah tanpa harus masuk kafe.
Mereka biasanya membawa termos air panas, ember kecil untuk es batu, dan boks yang berisi berbagai bahan untuk kopi (matcha bubuk, kopi bubuk, creamer, gula aren cair dll), serta snack ringan seperti permen atau rokok. Harga segelas kopi dari Starling berkisar antara Rp 6.000 hingga Rp 12.000, jauh lebih murah dari kopi kafe, tapi tetap memuaskan bagi sebagian besar konsumennya.
Di sisi lain, Starling juga menjadi simbol ketangguhan ekonomi menengah ke bawah. Banyak dari mereka yang memilih jalur ini sebagai alternatif penghasilan di tengah sulitnya lapangan kerja formal. Bahkan beberapa di antaranya punya pelanggan tetap dan menjadikan Starling sebagai bisnis utama. (fie)
Editor : A. Nugroho