“Omzetnya bisa tembus dua juta sehari, Mas. Tapi nggak mesti segitu terus, kadang cuma 1,3 juta kalau lagi sepi,” ungkap Aji saat ditemui di lapaknya. Aji menjual berbagai varian kopi dan teh kekinian dari gerobak sederhana. Harga yang ramah di kantong dan lokasi strategis membuat lapaknya ramai pembeli, terutama di jam-jam istirahat siang dan sore hari.
Hal senada disampaikan oleh Rangga, yang juga menjual minuman serupa di kawasan berbeda. Ia menyebutkan bahwa omset hariannya bisa bervariasi. “Omzetnya bisa 800 ribu kalau pas sepi, tapi bisa juga lebih dari itu kalau ramai,” ujar Rangga. Menurutnya, kunci dari bisnis ini adalah menjaga rasa, pelayanan yang cepat, serta kehadiran di media sosial untuk menarik pelanggan.
Promosi mulut ke mulut untuk menjaring pembeli dan bahan-bahan berkualitas menjadi daya tariknya. Meski hanya bermodal gerobak kecil dan peralatan sederhana, mereka membuktikan bahwa usaha kecil tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam sehari, puluhan hingga ratusan cup bisa terjual, terutama jika cuaca mendukung dan lokasi sedang ramai pengunjung.
Kisah Aji dan Rangga menjadi bukti bahwa usaha minuman kaki lima tetap menjanjikan di tengah maraknya persaingan industri kuliner. Dengan strategi yang tepat dan rasa produk yang konsisten, omzet jutaan rupiah bukanlah hal yang mustahil. Bagi anak muda yang ingin memulai usaha, bisnis minuman seperti ini bisa menjadi langkah awal yang realistis dan menguntungkan. (fie)
Editor : A. Nugroho