RADAR MALANG - Hotel Niagara yang berada di Lawang, Kabupaten Malang, merupakan salah satu bangunan tua yang masih bertahan hingga saat ini. Berlokasi di Jalan Dr. Sutomo No. 63, hotel ini dikenal sebagai salah satu bangunan bersejarah yang sudah ada sejak masa penjajahan Belanda.
Awalnya, bangunan ini bukanlah hotel, melainkan sebuah vila pribadi milik Liem Sian Joe, seorang konglomerat Tionghoa. Proses pembangunannya dimulai pada tahun 1903 dan selesai pada tahun 1918. Vila tersebut dirancang oleh Fritz Joseph Pinedo, seorang arsitek Belanda keturunan Portugis-Brazil. Gaya arsitekturnya memadukan unsur Eropa, Brazil, Portugis, dan Tionghoa, yang bisa dilihat dari bentuk bangunan hingga detail ornamen di bagian dalamnya.
Setelah dibangun, vila ini hanya digunakan selama dua tahun sebagai tempat tinggal keluarga. Pada tahun 1920, keluarga Liem pindah ke Belanda dan meninggalkan bangunan tersebut. Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada 1960, bangunan ini dibeli oleh seorang pengusaha asal Surabaya bernama Ong Kie Tjay. Bangunan kemudian direnovasi selama empat tahun sebelum difungsikan sebagai hotel dengan nama Hotel Niagara pada tahun 1964.
Hotel Niagara terdiri dari enam lantai. Lantai pertama dulunya merupakan kamar keluarga, sekarang beralih fungsi menjadi area publik. Lantai dua sampai lima berisi kamar-kamar tamu, sedangkan lantai enam merupakan bagian rooftop. Lantai empat dan lima sempat aktif digunakan, namun sejak awal tahun 2000-an mengalami renovasi dan hingga sekarang belum digunakan kembali.
Hotel ini pernah mengalami masa kejayaan pada era 1980-an. Pada masa itu, banyak wisatawan dari luar negeri yang datang ke Surabaya menggunakan kapal dan memilih menginap di Hotel Niagara. Hingga beberapa tahun lalu, masih ada wisatawan mancanegara, khususnya dari Belanda, yang datang dan menginap di hotel ini. Selain itu, tamu dari luar Jawa juga cukup sering menggunakan hotel ini sebagai tempat menginap saat berkunjung ke Lawang dan sekitarnya.
Meskipun bangunannya sudah berusia lebih dari satu abad, hotel ini masih beroperasi dan dirawat oleh 17 orang staf. Sebelumnya, pengelolaan hotel dilakukan oleh ibu dari pemilik sekarang. Namun karena faktor usia, pengelolaan kini dilanjutkan oleh generasi berikutnya dalam keluarga yang sama.
Hotel Niagara juga memiliki ruang pertemuan yang dapat menampung 50 hingga 75 orang, dan biasanya digunakan untuk kegiatan rapat atau seminar. Untuk mengikuti perkembangan zaman, sistem pemesanan kamar hotel kini sudah terhubung dengan aplikasi daring melalui kerja sama dengan pihak ketiga.
Selain memperluas jangkauan pemasaran, pengelola juga berencana menambah fasilitas lift agar hotel tetap nyaman digunakan di masa sekarang. Meskipun belum tercatat sebagai bangunan cagar budaya resmi, Hotel Niagara dianggap sebagai salah satu bangunan dengan nilai sejarah tinggi di Kabupaten Malang. Sampai saat ini, hotel ini masih digunakan dan tidak ada rencana untuk menjualnya, karena dianggap sebagai bagian dari warisan keluarga.
Sebagai salah satu bangunan peninggalan masa kolonial yang masih aktif digunakan, Hotel Niagara menyimpan banyak cerita sejarah yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum. Dengan gaya arsitektur khas dan usia bangunan yang panjang, hotel ini menjadi pengingat bahwa Lawang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah wilayah Malang Raya.
(Alfiyatul Rohma)
Editor : A. Nugroho