Radar Malang - Latihan Dasar Kedisiplinan (LDK) Politeknik Negeri Malang (Polinema) bukan cuma rangkaian teriakan baris-berbaris dan push-up. Di balik lantangnya suara pelatih, ada usaha besar untuk membimbing ratusan mahasiswa baru yang datang dengan kondisi fisik dan latar belakang yang sangat beragam.
Danki Budi S, salah satu pelatih LDK dari Dodikjur Rindam V/Brawijaya, bercerita betapa menantangnya melatih mahasiswa baru dengan latar belakang yang berbeda-beda.
“Mereka dari berbagai golongan, suku, agama, perbedaan itu memang bisa membedakan karakter. Tetapi diharapkan dengan perbedaan itu mereka bisa beradaptasi hidup di Jawa ini, begitupun sebaliknya,” ujar Budi pada wawancara Rabu (23/7) lalu.
Selama empat hari tiga malam, para mahasiswa digembleng mulai subuh hingga malam. Rutinitasnya bukan hanya latihan baris berbaris, tapi juga senam pagi, teori di kelas, penghormatan, tata upacara militer, makan cepat, kebersihan, hingga pembentukan yel yel untuk kebersamaan.
“Ternyata kemarin ada sekitar 8-10 anak yang karena capek, sakit, belum situasi sini dingin, kemudian siang panas, udaranya pekat kalau berkumpul, ya itu memang capek. Apalagi kebenturan dengan ngantuk. Itu akhirnya membuat mental manusia kalau tidak digembleng, nantinya akan turun” tegas Budi.
Keragaman budaya juga jadi tantangan tersendiri. Para pelatih harus memastikan barak tetap kondusif meski diisi mahasiswa dengan kebiasaan yang berbeda.
“Kita tau di sini ada yang dari NTT, Papua, juga banyak dari mereka yang beragama Kristen, hidup di sini bersama mayoritas. Jadi kita juga berkolaborasi supaya anak anak ini tidak konflik internal atau menjadi radikal,” tambahnya.
Walau banyak tekanan, Budi mengaku para pelatih juga merasa peduli kepada mahasiswa. Ia bilang, di balik bentakan, selalu ada rasa iba.
“Betul, kita memang iba terhadap anak anak ini, kan sumber dayanya berbeda, kesehatannya juga berbeda,” katanya sambil tersenyum.
Budi berharap, meski lelah, para mahasiswa pulang dengan satu hal: menjadi pemimpin yang hebat. “Diharapkan anak anak ini bisa menjadi pemimpin. Memimpin diri sendirinya terutama, memimpin teman temannya, juga menjadi pemimpin yang sebenarnya,” tutupnya.
LDK Polinema memang keras, tapi di situlah mental dan kedisiplinan remaja jaman sekarang ditingkatkan. Pengalaman yang tak terlupakan, dan jadi pondasi pertama bagi mahasiswa baru menginjak dunia kampus. (alf)
Editor : A. Nugroho