MALANG RAYA – Pemerintah telah merilis 26 merek beras premium yang diduga oplosan. Tidak semua ditemukan beredar di wilayah Malang Raya. Temuan terbanyak terjadi di Kota Batu dengan 20 merek beras premium yang diduga oplosan. Sedangkan di Kota Malang dan Kabupaten Malang sama-sama ditemukan enam merek.
Pengawasan di Kota Batu dilakukan dalam dua kali inspeksi mendadak (sidak) oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Batu dan Polres Batu. Yang pertama pada 16 Juli oleh Dinas Koperasi Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu. Kemudian Polres Batu melakukan sidak pada Kamis lalu (24/7).
Kabid Perdagangan Diskumperindag Kota Batu Nurbianto Puji mengatakan, pada sidak pertama mereka mendatangi enam titik. Mulai dari supermarket di salah satu pusat perbelanjaan, minimarket, dan Pasar Induk Among Tani Batu. ”Sekitar 20 merek kami temukan berdasar 26 merek yang dirilis Kementerian Ketahanan Pangan (Kementan),” ungkapnya.
Pria yang akrab disapa Kentor itu menambahkan, tidak ada pengamatan lebih detail tentang beras premium yang dicurigai dioplos dalam kegiatan sidak. Tim hanya melakukan proses pendataan untuk selanjutnya dilakukan uji laboratorium.
Menurut Kentor, pihaknya tidak menemukan ciri fisik yang mencolok pada beras yang diduga oplosan. Misalnya, tidak ditemukan menir atau pecahan beras maupun jagung yang berukuran kecil. Bahkan juga tidak ditemukan kutu beras dalam kemasan beras premium. Karena itu, pihaknya tidak tahu apakah beras premium itu dioplos dengan beras murah atau beras medium.
”Diperlukan bantuan laboratorium untuk menguji kualitas beras tersebut,” katanya. Apalagi, jika dilihat dari luar kemasan, beras premium sudah menerapkan kaidah pemasaran yang baik. Mulai dari pengemasan yang rapi dan label yang lengkap.
Secara gramasi, Kentor mengungkapkan ada kriteria khusus untuk melakukan pengamatan dan perbandingan. Idealnya, untuk mengetahui kepastiannya, uji gramasi perlu dilakukan sekitar 20 kemasan pada merek yang sama. Karena keterbatasan anggaran, maka yang dilakukan hanya pendataan dan pengujian laboratorium saja.
Hingga kini pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium beras premium yang diambil dari hasil sidak. Hasil itulah yang akan menjadi bukti konkret apakah beras tersebut dioplos atau tidak. ”Selama hasilnya belum keluar dan tidak ada perintah penarikan, kami belum bisa melakukan tindakan,” jelas Kentor.
Kasat Reskrim Polres Batu Iptu Joko Suprianto mengatakan, pihaknya juga telah melakukan sidak kedua pada tujuh titik lokasi. Mulai dari supermarket, minimarket, hingga pasar tradisional. Sidak kedua bertujuan untuk memastikan kembali jumlah merek yang masih beredar agar tidak diperjualbelikan.
Hasilnya, hanya ditemukan sekitar enam merek yang dicurigai dioplos. ”Paling banyak kami temukan di supermarket. Jumlahnya lima merek beras oplosan,” jelasnya. Di antaranya, Ayana sebanyak 9 sak, Topi Koki 10 sak, Sentra Ramos 15 sak, dan Sentra Ramos Cap Topi Koki 2 sak. Rata-rata dibanderol dengan harga Rp 74,5 ribu per kemasan lima kilogram.
Ada juga merek Sania yang ditemukan di salah satu minimarket di Kecamatan Batu. Sementara di beberapa titik lain sudah terpantau tak lagi dijual. Joko meminta kepada pemilik toko untuk tidak memajang beras yang diduga oplosan di etalase. Terlebih untuk dijual ke pelanggan. ”Kalau hasil uji laboratorium membuktikan memang dioplos, maka bisa dilakukan penarikan dari peredaran,” tandasnya.
Temuan Beras Premium yang Terindikasi Oplosan
Kota Batu
- Hasil inspeksi pemkot: 20 merek beras diduga oplosan
- Hasil pengawasan polisi: 5 merek dicurigai oplosan
- Sampel beras sedang diuji di laboratorium
- Beras oplosan lain sudah ditarik dari pasar
Kota Malang
- Hasil inspeksi pemkot: 6 merek terindikasi oplosan
- Pemantauan yang dilakukan baru dari sisi visual beras
- Toko ritel sudah menarik beras yang ditengarai oplosan
Kabupaten Malang
- Inspeksi satgas pangan dan polisi: 6 merek dicurigai oplosan
- Beras yang dicurigai oplosan dibawa ke Bulog
- Dari Bulog, beras akan diuji di laboratorium Sucofindo
- Beras oplosan lain sudah ditarik dari pasar
Ciri-Ciri Beras Premium oplosan
- Berat tidak sesuai dengan yang tertera di dalam kemasan (cenderung lebih ringan)
- Patahan butir beras tidak seragam. Rata-rata lebih dari 14 persen
- Warna butiran beras lebih kusam atau kecokelatan
Kasat Mata di Kota Malang
Pemantauan juga dilakukan Pemkot Malang bersama polisi. Pelaksanaannya berupa sidak pada 14 Juli dan 20 Juli. Hasilnya, ditemukan 6 merek beras premium yang diduga oplosan di pasar tradisional hingga toko retail modern.
Pada 14 Juli, sidak dilakukan Satgas Pangan Polresta Malang Kota. Anggota Satgas Pangan Polresta Malang Kota Ipda Suryantara mengatakan, pihaknya melakukan sidak di Pasar Oro-Oro Dowo. ”Kami melakukan inspeksi ke tiga kios yang menjual beras untuk memeriksa kualitas beras,” kata dia.
Pemeriksaan dilakukan dengan melihat kualitas beras secara visual dari bagian kemasan yang bening. Pihaknya mengamati warna dan keutuhan beras. Hasilnya, kondisi beras baik dan tidak ditemukan merek-merek yang ditengarai dioplos di tiga kios itu.
Selain beras oplosan, polisi juga memantau distribusi beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan). Pemantauan dilakukan di Kantor Pos, Pasar Bunulrejo, dan Gudang Bulog Malang. Hal tersebut bersamaan dengan kunjungan dari Wakil Direktur Umum Bulog Marga Taufiq. ”Hasilnya juga aman. Seluruh beras dinyatakan layak,” imbuh Suryantara.
Setelah sidak di Pasar Oro-Oro Dowo, polisi belum melakukan sidak lagi sampai kemarin (25/7). Namun, ada sidak yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang pada 20 Juli.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dispangtan Kota Malang Elfiatur Roikhah mengatakan, pihaknya telah melakukan sidak ke Pasar Dinoyo. Di sana mereka menemukan beberapa kios yang menjual beras oplosan merek Fortune dan Sania. Beras dengan merek-merek itu dijual dalam kemasan 10-25 kilogram.
Dispangtan juga melihat kondisi fisik beras dari bagian kemasan yang transparan. Menurut Elfi, pada beras dengan merek-merek yang ditengarai dioplos memang terdapat perbedaan. Ada yang warnanya cenderung kecokelatan. Padahal, beras premium seharusnya berwarna putih. ”Kemudian banyak kemasan beras yang tidak mencantumkan izin edar,” ungkap dia.
Metode yang sama juga dilakukan saat sidak ke toko retail modern. Dispangtan sudah melakukan sidak ke retail di enam kelurahan. Yakni Kelurahan Bumiayu, Kelurahan Buring, Kelurahan Polehan, Kelurahan Kedungkandang, Kelurahan Sawojajar, dan Kelurahan Mojolangu.
”Hasilnya ada enam merek beras yang ditengarai dioplos,” sebut Elfi. Yakni Sania, Fortune, Sentra Ramos, Sentra Pulen, Raja Platinum, dan Raja Ultima. Beberapa merek beras itu dijual dalam kemasan 30 kilogram.
Setelah melakukan sidak, pihaknya melakukan konfirmasi kepada Wilmar Group dan PT Food Station Tjipinang selaku produsen beras. Namun dari konfirmasi kepada PT Food Station Tjipinang, sejak Juni mereka tidak mengirim beras ke Jawa Timur.
Selain konfirmasi, dalam waktu dekat pihaknya juga akan bersurat ke toko retail modern dan berkomunikasi dengan pedagang untuk berkoordinasi dengan produsen. ”Jika ada ketidaksesuaian isi dengan yang tertulis di kemasan, mereka bisa mengembalikan barang ke produsen,” tegas Elfi.
Setelah melakukan sidak di Pasar Dinoyo dan toko retail di enam kelurahan, dispangtan belum melakukan sidak lagi. Pihaknya masih menunggu hasil pengecekan laboratorium yang dilakukan pemerintah pusat.
Wartawan Jawa Pos Radar Malang mencoba konfirmasi ke salah satu toko retail modern, yakni Indomaret cabang Malang. ”Saat ini beberapa merek (yang ditengarai dioplos) kami tarik dulu,” ucap Area Manager Indomaret Malang Gesang.
Uji Lengkap
Sementara itu, Pemkab Malang masih menunggu hasil uji laboratorium beras hasil sidak yang diduga oplosan. Pengujian tidak langsung dilakukan oleh tim dari Badan Usaha Logistik (Bulog). Melainkan dibawa ke laboratorium Sucofindo.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Malang Mahila Surya Dewi menjelaskan, awalnya beras tersebut hanya akan diuji persentase patahannya saja . Namun, pihak Bulog menyarankan diuji di laboratorium milik Sucofindo Surabaya. “Pengujian di sana lebih lengkap. Makanya bisa membutuhkan waktu beberapa hari,” ucapnya.
Dia sempat mendengar di Kabupaten Malang terdapat 26 merek beras premium yang terindikasi oplosan. Namun, saat sidak ke beberapa toko sembako di Kepanjen dan gudang distributor, pihaknya hanya ditemukan enam merek beras yang terindikasi oplosan. Yakni Sania, Garuda, Lumba 2 Biru, Fortune, Neng-Nong, dan Melon.
”Sepertinya merek beras yang lain sudah berangsur-anggur ditarik oleh distributor. Makanya saat kami sidak hanya menemukan enam merek tersebut,” kata pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.
Dia menyebut ada beberapa indikasi beras premium oplosan. Pertama, dari segi tampilan, warna berasnya tidak seragam. Sebab, warna beras medium lebih kusam dibanding beras premium. Selain itu, patahan beras juga tidak seragam. Beras premium biasanya memiliki patahan hanya 14 persen.
Berat beras medium juga lebih ringan. Karena itu, salah satu cara cepat untuk melihat indikasi oplosan yakni dengan memperhatikan visual dan menimbang beras kemasan tersebut. Dari hasil penimbangan, ditemukan lima beras yang tidak sesuai dengan informasi di kemasan. Dari yang seharusnya 5 kilogram, ternyata hanya 4,9 kilogram sampai 4,98 kilogram.
”Semua yang ditemukan bukan beras lokal. Karena itu, kami mulai mengedukasi masyarakat supaya mulai mengonsumsi beras lokal,” kata dia. Sebab, kualitas beras dari petani di Kabupaten Malang tidak kalah dengan beras premium yang dijual oleh perusahaan-perusahaan besar. Teksturnya pulen, aromanya juga wangi. Hanya saja, beras lokal tidak seputih beras dari pabrik. (ori/mel/yun/fat)
Editor : A. Nugroho