KEPANJEN – Angka bencana alam selalu menurun di musim kemarau. Sepanjang Juli lalu misalnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat 10 kejadian. Mayoritas gempa bumi, yakni delapan kejadian.
“Sisanya bencana yang terkait cuaca, angin kencang dan pohon tumbang masing-masing satu kejadian,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan kemarin.
Dia mengatakan, semua gempa tersebut terjadi tidak di daratan, melainkan di lepas pantai dan berada dalam skala kecil. Tidak sampai 5 skala richter. Sedangkan untuk dua bencana lainnya, pohon tumbang karena tertimpa kabel milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Jalan Panji, Kepanjen pada 8 Juli lalu. Lalu, atap rumah roboh karena terjangan angin di Desa Sumbertangkil, Kecamatan Tirtoyudo pada 25 Juli lalu.
Sadono mengatakan, angka bencana yang terjadi sepanjang Juli lalu cenderung menurun dibanding bulan-bulan sebelumnya. “Juni itu totalnya ada 35 bencana. Gempa bumi 26 kali, longsor 6 kali, 2 kali angin kencang dan 1 banjir,” sebut dia. Bulan ini, tidak ada longsor maupun banjir sama sekali.
Dia menyebut bahwa faktor cuaca cukup berpengaruh terhadap bencana. Sepanjang Juli lalu, tidak seberapa sering turun hujan atau mendung, lebih cenderung cerah. Meski begitu, pada Agustus ini, pihaknya tidak menepis kemungkinan masih ada hujan. Akan tetapi, tidak seintensif beberapa bulan sebelumnya.
Dengan dasar tersebut, status darurat bencana hidrometeorologi dicabut per Kamis (31/7). Pihaknya juga belum menetapkan darurat dalam bentuk apa pun. Termasuk juga kekeringan. “Belum ada dasar untuk menetapkan bencana kekeringan,” kata Sadono.
Cuaca yang cenderung bersahabat tersebut kemudian dimanfaatkan BPBD untuk melakukan transisi dari kedaruratan menuju pemulihan. “Salah satu yang sedang dikerjakan ini adalah normalisasi sungai. Itu pemulihan akibat dampak bencana,” kata dia. Kini, pihaknya masih terus berkoordinasi dengan dinas teknis lain untuk melakukan pemulihan lain. (biy/dan)
Editor : A. Nugroho