MALANG KOTA - Masa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) jadi angin segar bagi pelaku bisnis kos-kosan. Juga bagi pelaku bisnis perhotelan dan penginapan. Datangnya ribuan mahasiswa baru (maba) dari berbagai daerah bakal mendongkrak okupansi kos-kosan (selengkapnya baca grafis).
Seperti diberitakan, dari empat kampus negeri di Kota Malang saja, total ada 38 ribuan maba yang bakal datang. Terbanyak dari Universitas Brawijaya (UB) dengan 16.568 maba. Disusul Universitas Negeri Malang (UM) dengan 13 ribuan maba.
Selanjutnya ada Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) dengan 5.500 maba. Juga ada Politeknik Negeri Malang (Polinema) dengan 3.200 maba. Dari keempat kampus itu, Polinema jadi yang paling pertama memulai PKKMB. Mereka sudah menggelar rangkaiannya sejak 14 Juli lalu. Dan, akan berlangsung sampai 18 Agustus mendatang.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang Agoes Basoeki memprediksi, penginapan dan perhotelan hanya mengalami peningkatan okupansi sekitar 10 persen. Estimasi itu lebih sedikit dibanding tahun lalu, yang tercatat ada peningkatan okupansi sampai 25 persen. Agoes menuturkan bahwa prediksi itu didasarkan pada minat maba, yang umumnya langsung mencari penginapan jangka panjang seperti kos atau apartemen.
”Persentasenya tahun ini memang kecil, masih lebih tinggi pas musim wisuda,” ujar Agoes. Biasanya, perhotelan dan penginapan sudah dipesan sebelum PKKMB digelar. Namun tahun ini cukup jarang yang memesan. Selain penginapan dan perhotelan, pasar kos premium juga diprediksi lesu.
Raihan Aden, pemilik Den Kost yang menawarkan kamar mulai dari Rp 1,5 juta per bulan mengakui hal tersebut. Dari pengamatannya sejauh ini, ada penurunan peminat hingga 40 persen. Padahal, dalam periode yang sama pada tahun lalu, dia sampai menolak maba karena kosnya sudah penuh.
”Tahun lalu cuma ada 11 unit kos, bulan Agustus sudah fully booked semua kamarnya,” ujar Aden. Padahal, masing-masing unit kosnya berisi 15 sampai 25 kamar kos. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta per bulan langsung ludes dipesan.
Tahun ini, dia menambah tiga unit kos lagi. Berloasi di Jalan Sigura-gura, Jalan Dewandaru, dan Jalan Candi Mendut Barat. Namun sampai saat ini masing-masing unitnya baru terisi untuk 5 sampai 7 kamar saja.
”Sampai Juli kemarin, (kami) baru dapat 50 maba,” papar Aden. Padahal tahun lalu dia bisa mendapat tiga kali lipatnya. Aden menyadari penurunan penghuni kosnya disebabkan menurunnya daya beli masyarakat. Sementara segmen yang dia bidik memang kalangan atas.
Di sisi lain, pasar kos standar dengan harga mulai dari Rp 300 ribu sampai Rp 600 ribu per bulan tetap banyak diburu. Seperti disampaikan Fatichatuz Zuhro, salah satu pemilik kos di Jalan Jombang, Kecamatan Klojen. Kepada koran ini, tiap hari dia bisa menolak dua sampai tiga maba yang ingin ngekos di tempatnya. Bisnis kos dengan 40 kamarnya sudah penuh sejak bulan Juli. ”Kamar yang diincar rata-rata seharga Rp 350 ribu sampai Rp 400 ribu,” kata dia.
Rizkya Dwi Aulya, salah satu calon maba mengaku sudah melakukan sejumlah persiapan. Dia diterima di Program Studi (Prodi) Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FIK UB). Setelah diterima, dia sudah mendapat pemberitahuan mengenai PKKMB di UB. ”Kebetulan saya asli Tuban, tapi sejak SMK sudah di Malang,” ucap dia.
Sebagai perantau, dia kembali mencari kos yang dekat dengan kampus. Lokasi yang diincarnya di sekitar Jalan Bendungan Sigura-gura. Persiapan lain yang dia lakukan seperti mencari barang bawaan untuk PKKMB seperti baju yang harus dijahitkan.
”Kalau ditotal, seluruh kebutuhan habis Rp 500 ribu. Itu ada yang saya beli sendiri barangnya dan ikut jasa barang PKKMB,” imbuhnya. Meskipun ribet, Rizkya tetap bersemangat karena bisa mulai mempelajari hal-hal baru di Prodi Sistem Informasi UB.
Terkait barang bawaan, Rizkya mengaku tidak sebanyak tahun lalu. Yang dibutuhkan hanya tanda pengenal, pita, bag tag, dan lainnya. Rizkya berharap pelaksanaan PKKMB di UB tahun ini tetap menyenangkan, termasuk saat open house.
Selain Rizkya, ada pula Felda Saskia Inzandra. Dia diterima di Jurusan Peternakan Universitas Brawijaya (UB). Berbeda dengan Rizkya, Felda merupakan maba asli Malang. ”Saya mulai menyiapkan barang bawaan seperti atribut. Kabarnya nanti diminta menggunakan topi koboi, tapi masih menunggu informasi lebih lanjut,” cerita dia.
Sejauh ini, Felda baru mendapat informasi mengenai PKKMB di tingkat kampus. Pelaksanaannya dilakukan pada 11-13 Agustus. Dilanjutkan di fakultas pada 14-16 Agustus. Kemudian ada open house pada 30-31 Agustus. Selebihnya, Felda masih menunggu informasi terkait rangkaian PKKMB di UB.
Kampus lain menggelar juga menggelar PKKMB. Misalnya saja di UM yang menggelar PKKMB pada 17-20 Agustus. Persiapan sudah dilakukan para maba. Seperti disampaikan Chasbiah, maba Jurusan S1 Teknik Informatika Fakultas Teknik UM.
Chasbiah mengaku kalau persiapannya baru pengambilan barang seperti almamater, topi, dan dasi. ”Selain itu, kami juga diminta melakukan tes kesehatan di Poliklinik UM untuk memastikan bisa ikut PKKMB atau tidak,” ucapnya.
Pada pelaksanaan tes kesehatan, maba harus membayar biaya senilai Rp 50 ribu. Jika ditambah dengan perlengkapan PKKMB lain, Chasbiah memperkirakan biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 150 ribu. Biaya itu untuk membeli pita, ID card, hand book, papermob, dan lainnya. (aff/mel/by)
Grafis Bisnis Penginapan dan Kos Jelang Kedatangan Maba
- Okupansi perhotelan dan penginapan diprediksi naik 10 persen.
- Okupansi kos standar diprediksi naik 40 persen.
- Kos standar yang paling banyak dicari yakni kos dengan rentang harga Rp 300 ribu sampai Rp 600 ribu per bulan.
- Okupansi kos premium diprediksi tetap turun 40 persen.
- Harga kos premium yang sepi peminat mulai dari Rp 1,5 juta per bulan.