Jumlah Penderita Terus Bertambah
KEPANJEN – Kewaspadaan terhadap penularan tuberculosis (TBC) perlu ditingkatkan.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinkes Kabupaten Malang, Gunawan Djoko Untoro, menjelaskan bahwa anak-anak lebih mudah tertular dari orang dewasa yang menderita TBC aktif. Mereka juga berisiko mengalami TBC berat seperti TBC otak (meningitis tuberkulosa) atau TBC milier.
Sebab, jumlah penderita terus bertambah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengungkap, Januari sampai Juli lalu tercatat 1.698 penderita baru.
Gunawan memaparkan, TBC dapat menyerang semua kelompok usia. Namun, yang paling rentan terserang adalah anak-anak, utamanya usia di bawah lima tahun. Sebab, sistem kekebalan tubuhnya masih belum sempurna.
“Anak-anak lebih mudah tertular dari orang dewasa yang menderita TBC aktif. Mereka juga berisiko mengalami TBC berat seperti TBC otak (meningitis tuberkulosa) atau TBC milier,” kata Gunawan.
Sementara itu, kelompok usia dewasa produktif (15–54 tahun) merupakan kelompok paling banyak terkena TBC di banyak negara, termasuk Indonesia. Dia menyebut, aktivitas di tempat kerja, transportasi umum, dan lingkungan padat dapat meningkatkan risiko paparan TBC.
“Lansia atau yang berusia di atas 60 tahun juga rentan TBC. Karena sistem imun mulai melemah seiring bertambahnya usia,” ucapnya. Lansia juga sering memiliki penyakit penyerta (komorbid), di antaranya diabetes atau penyakit paru kronis yang meningkatkan risiko reaktivasi infeksi TBC laten.
Dia menyebutkan, setidaknya terdapat lima gejala orang yang terindikasi tertular TBC. Di antaranya batuk berdahak maupun tidak berdahak, demam, nyeri dada, berkeringat tanpa sebab terutama pada malam hari, serta nafsu makan maupun berat badan menurun.
Oleh karena itu, bagi orang yang merasakan gejala tersebut, disarankan melakukan pemeriksaan lebih lanjut agar bisa disimpulkan diagnosis terakhir. Seperti pemeriksaan dahak dan sinar X.
“TBC termasuk penyakit menular yang dapat sembuh total jika ditangani dengan tepat,” kata Gunawan.
Pengobatan TBC harus rutin dengan meminum obat selama jangka waktu yang dianjurkan dokter. Jika pasien berhenti minum obat sebelum waktu yang disarankan, bakteri TBC berpotensi kebal terhadap obat yang biasa diberikan. Akibatnya, TBC menjadi lebih berbahaya dan akan lebih sulit diobati.
Ketika sudah terkonfirmasi TBC, orang tersebut wajib memakai masker ketika berada di sekitar orang, terutama selama tiga minggu pertama pengobatan. Upaya ini dapat membantu mengurangi risiko penularan. Begitu pula dengan masyarakat yang akan berinteraksi dengan penderita TBC.
Selain itu, pemberian vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) juga menjadi salah satu upaya pencegahan yang dianggap ampuh. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho