BANTUR - Sekolah Rakyat (SR) di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur akan bersifat permanen. Jika sudah dibangun, akan dibuka 36 rombongan belajar (rombel). Dengan rincian, 18 rombel untuk jenjang SD, serta masing-masing sembilan rombel untuk jenjang SMP dan SMA.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Malang Pantjaningsih Sri Redjeki menyampaikan, setiap kelas dari masing-masing jenjang terdiri atas tiga rombel. Masing-masing rombel berisi 25 siswa. ”Jika ditotal, akan ada 900 siswa di sekolah tersebut,” ujar pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.
“Masih terus berproses untuk pembangunannya. Namun saya juga sudah berkonsultasi dengan Sekjen Kemensos bahwa pembangunan SR ini tercantum dalam APBN 2025,” kata Pantjaningsih Sri Redjeki, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Malang.
Saat ini masih dalam proses menuju pembangunan. Lahan dengan luas 5,9 hektare tersebut sudah disiapkan dan proses sertifikasi juga sudah dilalui. Pihaknya tinggal menunggu keluar Sertifikat Hak Pakai (SHP) saja. “Sudah ada survei dari Satuan Kerja (Satker) Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang ada di Jawa Timur dan direkomendasikan (bisa dibangun),” imbuhnya.
Pengukuran topografi hingga sondir boring untuk penilaian kemiringan dan kepadatan sudah dilaksanakan dan hasilnya sudah keluar tanpa ada catatan. Sehingga pembangunan dapat dilanjutkan. Kelengkapan dokumen seperti Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin) juga sudah disusun.
Selain itu, dia melanjutkan, soft copy dari Detail Engineering Design (DED) yang dikerjakan Kemen PU sudah diterima Pemkab Malang. “Masih terus berproses untuk pembangunannya. Namun saya juga sudah berkonsultasi dengan Sekjen Kemensos bahwa pembangunan SR ini tercantum dalam APBN 2025,” kata Pantja.
Seperti diberitakan, lahan tersebut seluas 9,7 hektare, tetapi yang digunakan untuk SR sekitar 5,9 hektare. Kawasan tersebut sebelumnya berupa perkebunan tebu. Namun kini sudah dibabat habis karena sewa dan masa panen sudah tuntas. Anggaran pembangunannya diperkirakan akan menghabiskan Rp 200 miliar. Rinciannya, Rp 100 miliar dari APBN dan Rp 100 miliar dari Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho