Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Melihat Lebih Dekat Kisah Ojek Online di Malang: Kerap Antar Tanpa Tarik Bayaran

A. Nugroho • Jumat, 12 September 2025 | 18:20 WIB
SENANG: Ilustrasi ojek online saat mendapatkan order
SENANG: Ilustrasi ojek online saat mendapatkan order

MALANG – Di tengah kesibukan Kota Malang, lalu lintas yang padat, dan deru knalpot yang nyaris tak pernah berhenti, pengemudi ojek online (ojol) menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Mereka hadir bukan hanya sebagai penyedia jasa transportasi, tetapi juga saksi sekaligus pelaku dari berbagai kisah yang seringkali luput dari perhatian.

Salah satunya adalah Kuranto, pengemudi ojol asal Sukun yang sudah delapan tahun mengandalkan roda duanya untuk mencari nafkah. Ia bukan hanya sekadar bekerja demi pemasukan, melainkan juga menjalani profesinya dengan hati. Bagi sebagian orang, menggratiskan ongkos penumpang mungkin terasa berat. Namun, bagi Kuranto, rasa iba sering mengalahkan kebutuhan pribadi.

“Kalau lihat ibu bawa anak kembar, saya nggak tega. Nggak saya patok tarif. Kalau ibu tua nggak punya aplikasi, saya antar juga tanpa terima bayaran,” ujarnya saat ditemui, Selasa (9/9).

Padahal, penghasilannya sendiri tidak bisa dibilang besar. Di hari-hari sepi, ia hanya membawa pulang sekitar Rp 125.000. Itu pun masih harus dipotong biaya bensin dan kebutuhan lain. “Yang penting happy jalaninnya,” katanya sambil tersenyum.

Kisah lain datang dari Heru, pengemudi ojol yang sudah delapan tahun lebih menekuni pekerjaan ini. Setiap hari, ia memulai aktivitas sejak pagi hingga sore, dengan pendapatan bersih rata-rata Rp 100.000. Meski terbilang pas-pasan, Heru memilih tetap bekerja. Bukan hanya soal uang, melainkan juga tentang perasaan yang ia dapat saat berada di jalanan.

Namun, ada cerita menarik yang membuat perjalanan Heru berbeda. Ternyata, profesinya sebagai ojol kerap ia sembunyikan dari anak-anaknya. “Udah, Bapak nggak usah kerja,” begitu pesan anak-anaknya yang kini tinggal dan bekerja di Jakarta. Mereka ingin Heru beristirahat di rumah, mengingat usianya yang tak lagi muda.

Tapi diam-diam, setiap pagi Heru tetap menyalakan aplikasi. Baginya, menarik ojek bukan hanya soal mengantongi uang, tetapi juga sarana untuk tetap merasa hidup. “Kalau di rumah terus rasanya nggak enak. Kalau kerja, bisa ketemu orang dan ngobrol sama teman,” tuturnya. Demi menjaga perasaan anak-anak, ia pun memilih berhenti sementara setiap akhir pekan. “Kalau mereka pulang, saya nggak berani narik. Takut ketahuan,” ucapnya, lalu terkekeh kecil.

Kedua cerita ini menggambarkan wajah lain dari profesi ojol di Kota Malang. Mereka bukan hanya pengemudi yang mencari penumpang dan penghasilan, melainkan juga manusia dengan sisi emosional dan kemanusiaan yang begitu kuat. Dalam situasi sulit sekalipun, masih ada ruang untuk berbagi dan peduli pada sesama. (gg)

Editor : A. Nugroho
#Ojek online di Malang #Kota Malang #ojek online