MALANG – Bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol) masih menjadi pilihan banyak orang di Kota Malang. Dengan banyaknya mahasiswa di kota ini, wajar saja banyak yang menganggap menjadi ojek online adalah profesi yang menjanjikan.
Namun di balik jaket hijau dan ponsel yang selalu siaga menunggu order, pendapatan mereka ternyata tidak selalu sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.
Imam, seorang pengemudi yang mulai menjadi ojol sejak 2020, mengaku penghasilannya bergantung pada kondisi jalanan dan jumlah penumpang. Ia biasanya memulai hari sejak pukul 06.00 pagi, lalu baru mematikan aplikasi ketika merasa lelah pada malam hari.
“Kalau lagi ramai bisa dapat Rp 100.000 sampai Rp 150.000, itu pendapatan bersih. Tapi kalau sepi, kadang hanya dapat dua penumpang, bahkan pernah nggak dapat sama sekali,” ujarnya saat diwawancarai Jawa Pos Radar Malang, Selasa (9/9).
Salah satu yang jadi tempat mangkal favorit adalah seputaran Jalan Veteran. Lokasinya dipilih yang dekat dengan gerbang keluar mahasiswa dari Universitas Brawijaya (UB). Meski jadwal keluar mahasiswa yang relatif bersamaan seperti saat penerimaan mahasiswa baru, tak selamanya menguntungkan ojol.
Imam mengaku jika sekali dia dapat orderan yang jaraknya jauh dari sana, maka saat kembali lagi, mahasiswa di sana sudah sepi. “Waktu kembali sudah pada habis. Jadi karena keluarnya bareng, biasanya malah sulit dapat lagi,” beber pria bertubuh gempal ini.
Selain penghasilan yang tidak pasti, Imam juga mengaku pernah dihantui rasa takut terhadap aksi kejahatan. Ia menuturkan, beberapa rekannya hampir menjadi korban begal ketika mengambil order di pinggiran kota. “Kalau dulu daerah Wagir agak rawan. Tapi sekarang sudah lebih aman,” katanya.
Hal serupa disampaikan Heru, pengemudi yang sudah menekuni profesi ini sejak 2017. Selama delapan tahun, ia menggantungkan hidupnya hanya dari ojek online. Ia memulai perjalanan setiap pukul 06.00 pagi hingga 17.00 sore. “Kalau Universitas Brawijaya masuk kuliah, bisa sampai 20 orderan sehari. Tapi kalau libur, paling cuma tujuh,” ucapnya.
Pendapatannya pun tidak terlalu besar. Dalam sehari, Heru bisa mendapatkan Rp 160.000 pendapatan kotor. Setelah dipotong bensin dan kebutuhan lain, bersihnya hanya sekitar Rp 100.000. “Ya lumayan, bisa buat kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Sementara itu, Kuranto, pengemudi asal Sukun, juga sudah delapan tahun bekerja sebagai ojol. Baginya, pekerjaan ini adalah satu-satunya pilihan setelah tak menemukan pekerjaan lain. Ia biasanya mulai bekerja pukul 09.00 pagi hingga 20.00 malam.
Pendapatannya juga tidak selalu stabil. Di hari ramai, ia bisa membawa pulang Rp 200.000 pendapatan bersih. Namun di hari sepi, maksimal hanya Rp 125.000. Meski demikian, Kuranto mengaku tidak pernah merasa terbebani, karena ia senang dengan pekerjaannya. “Happy jalaninnya,” ujarnya singkat.
Kisah Imam, Heru, dan Kuranto menunjukkan kenyataan di balik profesi ojol. Meski pendapatan terbatas dan penuh tantangan, mereka tetap setia menyalakan aplikasi setiap hari. Bagi mereka, pekerjaan ini bukan hanya soal mencari nafkah, melainkan juga cara bertahan hidup di tengah kota yang terus bergerak. (gg)
Editor : A. Nugroho