MALANG - Kota Malang dikenal sebagai kota pelajar dengan aktivitas mahasiswa yang padat setiap harinya. Namun di balik ramainya lalu lintas jalanan, ada cerita-cerita unik yang dialami para driver ojek online (ojol).
Fenomena prank dan orderan fiktif masih menjadi momok menakutkan bagi mereka. Padahal mereka jelas tak bisa pilih-pilih orderan. Sikat saja! Meski tetap waspada.
Aa, seorang driver ojol menceritakan pengalaman tak menyenangkan. Ini terkait order makanan yang masuk melalui aplikasi ojol miliknya.
Awalnya tak ada firasat aneh-aneh. “Orderan makanan biasa. Dari namanya, cewek yang pesan,” ungkapnya.
Dia pun mengambil dan mengantarkan orderan itu segera. Namun pas sampai di lokasi, mendadak si pemesan menyuruhnya masuk kamar. “Langsung masuk kamar saja,” kata Aa, mengulang isi pesan di aplikasinya..
Bukannya merasa senang dan lega, namun yang muncul justru ketakutan. Dia terbayang prank dan kelakuan jahil yang sempat viral di sejumlah media beberapa waktu lalu. Mulai dari direkam dan diviralkan. Hingga bisa-bisa dijebak komplotan pencuri motor.
Namun karena sudah terlanjur mengambil pesanan dan ingin segera selesai, dia masuk saja. Alangkah kagenya dia, ketika cewek tersebut membuka pintu kamarnya. “Pakai pakaian seksi begitu. Jujur, saya deg-degan. Ya sudah saya letakkan pesanannya lalu cepat-cepat pergi,” bebernya.
Dalam pikirannya, ada banyak kemungkinan buruk. “Bukan berarti saya sok suudzon, tapi lebih ke antisipasi demi keselamatan,” tambahnya.
Cerita serupa datang dari Imam yang sudah lima tahun jadi driver ojol di Malang. Menurutnya, bentuk kejahilan dengan orderan fiktif memang sangat meresahkan. “Sering ada orderan fiktif, biasanya sih alamatnya ngawur, akunnya nggak jelas,” ujarnya.
Meski begitu, Imam memilih bersikap praktis dalam menghadapi situasi itu. “Orderan fiktif itu sangat merugikan. Ya, kalau semisal saya bisa jangkau dari pada ribet saya lebih baik ganti uangnya dari pada memakan waktu,” beber pria asal Pujon ini.
Hal senada dikatakan Damas. Pria asal Solo yang sudah tiga tahun ini menjadi driver ojol di Malang ini pernah mendapat orderan fiktif. “Sudah sempat beli makanan, sampai lokasi ternyata alamat palsu. Kesal juga. Apalagi waktu itu masih awal-awal ngojol. Tapi dari situ saya sadar, harus lebih hati-hati,” katanya.
Heru, driver senior asal Blimbing juga angkat bicara. Menurutnya, kalau ada orderan yang tidak jelas, pasti akan langsung dia cancel. “Driver lama pasti tahu. Cirinya dari titik penjemputan atau pengantaran, kalau bergerak-gerak, biasanya itu orderan fiktif,” ucap pria yang sudah sejak 2017 jadi driver ojol ini.
Fenomena prank dan order fiktif di Malang memang membuat sebagian driver merasa kesal. Namun, meski kerap merugi tuntutan pekerjaan, apalagi kebutuhan menafkahi keluarga, membuat apa pun itu harus dilalui. Hanya saja pengalaman membuat mereka lebih berhati-hati dan waspada. (bal)
Editor : A. Nugroho