RADAR MALANG – Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil jeruk. Kondisi geografis yang berada di lereng pegunungan dengan udara sejuk membuat kawasan ini cocok untuk tanaman jeruk. Meski begitu, jumlah lahan yang ditanami jeruk saat ini tidak sebanyak beberapa tahun lalu. Namun masih ada petani yang bertahan dan menjadikan jeruk sebagai sumber penghidupan utama.
Salah satunya adalah Jumaat, 63. Ia mulai menekuni usaha kebun jeruk sejak 2017. Lahan yang dimilikinya tidak terlalu luas, hanya sekitar 1.500 meter persegi, tetapi cukup untuk menjadi sumber penghasilan keluarga. Letak rumahnya yang berdekatan dengan kebun membuatnya lebih mudah melakukan perawatan. Hampir setiap hari ia menyempatkan diri untuk mengecek kondisi tanaman.
“Rumah saya dekat, daerah Genting sana, jadi gampang kalo mau ke kebun deket,” ujarnya saat ditemui pada Selasa (9/9) lalu.
Berbeda dengan Jumaat, Wildan, 21 sudah lebih lama berkecimpung dalam usaha jeruk. Keluarganya mulai menanam sejak 10 tahun lalu, juga di lahan sekitar 1.500 meter persegi. Keistimewaannya, rumah mereka berada persis di samping kebun. Hampir setiap hari pemandangan pohon jeruk menjadi bagian dari kehidupan keluarga.
“Kalo ga salah udah 10 tahunan usaha ini. Enak juga lahannya samping rumah, gampang ngeceknya,” ujar Wildan.
Bagi kedua petani tersebut, jeruk bukan sekadar tanaman untuk dijual di pasar, tetapi sudah menjadi bagian dari keseharian. Perawatan rutin seperti pemupukan, membersihkan gulma, dan menjaga pohon dari hama menjadi pekerjaan yang tidak pernah ditinggalkan. Selain itu, mereka juga harus memperhatikan musim, karena curah hujan dan cuaca sangat mempengaruhi hasil panen.
Jenis jeruk yang banyak ditanam di kawasan Dau rata-rata adalah jeruk Pontianak. Keduanya memiliki pasar tersendiri, baik di tingkat lokal maupun luar daerah. Namun, harga jual sering kali tidak stabil. Ada saatnya harga tinggi, tetapi tidak jarang juga anjlok sehingga menyulitkan petani. Kondisi ini membuat hasil panen tidak selalu berbanding lurus dengan keuntungan yang diperoleh.
Meski begitu, baik Jumaat maupun Wildan memilih tetap mempertahankan usaha kebun jeruk mereka. Menurut mereka, bertani jeruk sudah menjadi ciri khas yang sebaiknya dilanjutkan. Selain memberikan penghasilan, kebun juga menjadi bagian dari identitas warga Dau.
“Kan kalau bicara Dau, ya identiknya dengan jeruk,” tutur Jumaat.
Keberadaan petani jeruk seperti mereka menjadi bukti bahwa di tengah banyaknya pilihan pekerjaan lain, masih ada yang memilih bertahan di sektor pertanian. Dengan lahan yang cukup luas tersebut, pastinya tantangan selalu ada. Namun, jeruk tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Dau hingga kini. (alf)
Editor : A. Nugroho