Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Buka Usaha ala Gen Z Malang: Saat Ruko Kosong Disulap Jadi Kafe, Mahasiswa Malang Buktikan Mimpi Bisa Jadi Nyata!

A. Nugroho • Sabtu, 13 September 2025 | 02:15 WIB
INDAH: nuansa cokelat bikin suasana semakin hangat.
INDAH: nuansa cokelat bikin suasana semakin hangat.

MALANG – Semangat wirausaha di kalangan mahasiswa kini bukan lagi hal asing. Di tengah kesibukan kuliah, organisasi, hingga tuntutan tugas harian, banyak generasi muda berusaha melangkah lebih jauh dari sekadar mengejar gelar sarjana. Bagi sebagian dari mereka, bisnis bukan hanya cara menambah pengalaman, tetapi juga pintu menuju kemandirian. Tantangan utamanya terletak pada bagaimana menyeimbangkan peran ganda, yakni tetap berstatus mahasiswa, namun sekaligus mampu mengelola usaha yang menuntut komitmen penuh.

Malang sebagai kota pendidikan menjadi saksi lahirnya banyak cerita itu. Dari sekian nama yang menekuni dunia usaha, ada Harlan Hartono Warapada, 20 tahun, mahasiswa Manajemen Universitas Brawijaya. Ia memilih jalur yang tidak biasa: menaruh prioritas utama pada bisnis di saat kebanyakan teman sebayanya masih sibuk mengejar IPK atau aktif di organisasi. Kafe miliknya, Elwood Coffee & Eatery, berdiri di kawasan Sawojajar dan resmi dibuka pada 8 Februari lalu. Meski baru berjalan tujuh bulan, gaungnya sudah terdengar hingga ke telinga warga sekitar.

Harlan bercerita, ide mendirikan Elwood awalnya lahir dari sesuatu yang sederhana, sebuah ruko kosong milik keluarga. “Awalnya aku pengen bikin cucian mobil, tapi di depan sudah ada. Akhirnya mentor menyarankan bikin kafe, ternyata bisa berjalan,” tuturnya. Dari situlah langkah barunya dimulai, meski tentu saja tidak semulus yang terlihat saat ini.

Proses menuju berdirinya kafe tersebut memakan waktu panjang. Setelah lulus SMA, Harlan tidak langsung membuka usaha. Ia justru menghabiskan hampir dua tahun untuk merancang konsep. Menurutnya, konsep tidak boleh asal jadi, ia harus bisa menyesuaikan dengan target utama yaitu masyarakat Sawojajar yang kebanyakan adalah keluarga. Arahan dan masukan dari mentor yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia kuliner menjadi bekal penting baginya.

Bukan hanya konsep, sistem operasional juga harus disiapkan matang. Harlan menekankan bahwa membuat sistem yang bisa berjalan sendiri tanpa harus terus menunggu arahan atasan membutuhkan kesabaran. Untuk urusan minuman, Harlan memilih turun tangan langsung menyusun resep. Sedangkan menu makanan ia percayakan pada seorang chef lulusan tata boga. Kehadiran chef itu menurutnya penting agar menu yang disajikan tidak sekadar mengenyangkan, tetapi juga bisa diingat oleh pelanggan. Proses panjang ini membuat persiapan Elwood terasa seperti membangun rumah dari nol. Satu demi satu pondasi disusun hingga kokoh.

Pemilihan nama pun tidak asal. “Aku ingin image keluarga ini tetap ada. Elwood juga punya arti hutan peri, tempat yang nyaman dan tenang,” jelas Harlan. Nama itu terinspirasi dari usaha keluarga yang bergerak di bidang kayu. Tak heran, interior kafe pun dipenuhi nuansa kayu yang menghadirkan kesan hangat sekaligus natural, seolah ingin mengikat identitas keluarga dengan bisnis baru yang ia rintis.

Keberadaan Elwood sendiri membawa warna baru bagi warga Sawojajar. Sebelum kafe ini ada, banyak dari mereka harus menempuh perjalanan ke pusat kota Malang hanya untuk menikmati suasana kafe dengan makanan berat. Kini, mereka cukup melangkah ke lingkungan sendiri. “Orang-orang kaget ada kafe proper di Sawojajar. Jadi nggak perlu jauh ke kota,” ujar Harlan sambil tersenyum. Respon positif itu menjadi energi tambahan baginya untuk terus mengembangkan usaha.

Meski tampak serius mengurus kafe, Harlan tidak sepenuhnya meninggalkan dunia kampus. Ia aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Mahasiswa Wirausaha (MW) UB, bahkan dipercaya sebagai Manajer Business Unit Culinary. Dari sinilah ia mendapat banyak relasi dan dipertemukan dengan mentor yang akhirnya ikut berperan dalam lahirnya Elwood. “Dari MW ini aku belajar banyak soal relasi dan sistem bisnis,” katanya.

Dengan segudang aktivitas, Harlan tentu butuh strategi untuk menjaga keseimbangan. Ia menyiasatinya dengan membagi waktu dalam sepekan. Empat hari ia dedikasikan khusus untuk memantau kafe, mulai dari keuangan, operasional, marketing, hingga SDM. Selebihnya, ia gunakan untuk urusan kuliah. “Aku nggak selalu ada di tempat, tapi tetap mantau. Kalau ada karyawan izin, kadang aku turun langsung,” ujarnya.

Kisah Harlan menjadi gambaran bahwa jalur seorang mahasiswa tidak selalu harus lurus menuju ijazah. Ada ruang untuk berani mengambil risiko, menaruh fokus pada bisnis, dan tetap menjaga identitas sebagai pelajar. Dedikasi serta keberanian yang ia tunjukkan membuktikan bahwa dunia usaha bisa dirintis sejak muda, bahkan ketika gelar sarjana masih dalam proses diraih. (fr)

Editor : A. Nugroho
#kafe #sawojajar #malang