MALANG - Dunia bisnis mahasiswa di Malang semakin berwarna. Banyak yang berani merintis usaha di sela jadwal kuliah, dengan latar belakang dan motivasi yang beragam. Kisah Harlan Hartono Warapada, mahasiswa Manajemen Universitas Brawijaya, dan Naula, mahasiswa Teknik Kimia UIN Malang, menjadi contoh menarik bagaimana jalan menuju wirausaha bisa dimulai dari arah yang sangat berbeda.
Harlan, misalnya, memilih jalur yang lebih terencana. Ia sudah mengenal dunia bisnis sejak SMA, bahkan pernah menjual rice box dengan merek Memorize. Pengalaman itu menumbuhkan keyakinannya bahwa usaha bisa menjadi prioritas utama, bukan sekadar sampingan kuliah. Hingga akhirnya, ia mendirikan Elwood Eatery di kawasan Sawojajar. “Awalnya mau bikin cucian mobil, tapi setelah diskusi dengan mentor, konsep kafe dianggap lebih cocok. Meski ribet, ternyata bisa dijalani,” ujarnya.
Konsep Elwood tidak lahir begitu saja. Butuh dua tahun bagi Harlan untuk merancang ide, menyesuaikan dengan karakter masyarakat Sawojajar yang lebih banyak dihuni keluarga dan kalangan dewasa. Nama Elwood sendiri ia ambil dari bisnis kayu keluarganya, yang kemudian diterjemahkan sebagai hutan peri. Harapannya sederhana, yakni pengunjung merasa nyaman, tenang, dan betah berlama-lama di sana.
Sementara itu, kisah Naula justru berawal dari hal kecil yang tidak direncanakan. Bersama pasangannya, Fadli, ia merintis bisnis BannerBliss saat masa skripsi. Semuanya dimulai ketika ia membuat banner wisuda untuk dirinya sendiri, lalu teman-temannya ikut tertarik. “Awalnya iseng, cuma buat sendiri. Tapi kok banyak yang chat aku nanyain banner, akhirnya aku putuskan sekalian jualan,” ceritanya.
BannerBliss kini berkembang melayani berbagai desain banner wisuda, dikerjakan dari kos dengan bantuan tim kecil. Meski awalnya diniatkan hanya sementara, pesanan yang terus berdatangan membuat Naula berpikir ulang. “Dulu targetnya setelah lulus ya selesai. Tapi ternyata kok sayang kalau dihentikan, akhirnya tetap aku lanjutkan sampai sekarang,” ujarnya.
Perbedaan motivasi antara keduanya jelas terlihat. Harlan menjadikan bisnis sebagai jalan utama, bahkan mengatur jadwalnya dengan disiplin untuk mengawasi divisi-divisi di Elwood. Sedangkan Naula lebih spontan, membiarkan usaha berjalan mengikuti permintaan pasar, sembari tetap fokus pada perkuliahan.
Namun, ada satu benang merah yang menyatukan keduanya yaitu konsistensi. Harlan mengandalkan promosi lewat influencer untuk menarik pelanggan Elwood, sementara Naula bertumpu pada kekuatan mulut ke mulut serta jejaring pertemanan dan promosi di media sosial. Dari jalannya masing-masing, keduanya sama-sama belajar bahwa usaha yang tekun dijalankan akan menemukan pasarnya sendiri.
Fenomena seperti ini kian memperlihatkan bahwa mahasiswa Malang tidak hanya sibuk dengan urusan akademik, tetapi juga berani mengisi ruang ekonomi kreatif. Dari kafe dengan konsep matang hingga banner sederhana yang berawal dari iseng, semuanya berkontribusi menghadirkan semangat wirausaha baru di kota ini. Kisah Harlan dan Naula hanyalah dua dari sekian banyak cerita yang menunjukkan bahwa bisnis mahasiswa tidak harus seragam, bisa lahir dari perhitungan matang, atau sekadar kesempatan yang kebetulan datang.
Lebih jauh, tren ini juga menunjukkan pergeseran cara pandang mahasiswa terhadap masa depan. Jika dulu kegiatan organisasi atau magang menjadi jalan utama menyiapkan karier, kini banyak yang mulai melihat wirausaha sebagai opsi konkret untuk melatih kemandirian sekaligus menopang finansial sejak dini. Tidak heran, Malang dengan populasi mahasiswa yang besar perlahan menjelma menjadi kota yang subur bagi lahirnya ide-ide bisnis baru.
Pada akhirnya, kisah Harlan dan Naula memberi pesan sederhana bahwa setiap usaha punya jalannya masing-masing. Tidak ada formula tunggal untuk memulai bisnis, yang penting adalah keberanian untuk mencoba. Baik yang lahir dari perencanaan panjang seperti Elwood, maupun yang berawal dari keisengan seperti Banner Bliss, keduanya membuktikan bahwa peluang bisa datang dari mana saja, tinggal bagaimana kita berani menangkap dan merawatnya. (fr)
Editor : A. Nugroho