Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mochammad Fahruji, Penghobi Burung Merpati Asal Lawang Selalu Andalkan Peliharaan dari Hasil Persilangan

A. Nugroho • Minggu, 2 November 2025 | 19:40 WIB
SIAP TERBANG: Burung merpati milik Fahruji diangkut menggunakan pikap menuju arena perlombaan di Pulau Kangean beberapa waktu lalu
SIAP TERBANG: Burung merpati milik Fahruji diangkut menggunakan pikap menuju arena perlombaan di Pulau Kangean beberapa waktu lalu

SENSASI menanti merpati pos pulang ternyata bikin nagih. Itu yang dirasakan Mochammad Fahruji, penghobi asal Lawang, setelah burung peliharaannya berhasil jadi yang tercepat di lomba. Dari situ, hobinya berubah jadi keseriusan berkompetisi di langit.

Dulu, Fahruji hanya menganggap merpati sebagai hewan peliharaan biasa. Tapi pandangannya berubah total ketika untuk pertama kalinya ia menyaksikan burungnya mendarat lebih dulu dibanding peserta lain. ”Rasanya bangga banget. Sejak itu saya mulai serius belajar dan ikut lomba,” ujarnya.

Awalnya, Fahruji mengandalkan merpati lokal. Namun dari pengalaman ikut kompetisi, ia sadar bahwa faktor genetik sangat berpengaruh terhadap performa terbang dan daya pulang burung. Ia pun mulai mencari merpati dari keturunan unggul, baik hasil beli maupun pemberian sesama penghobi.

Begitu punya indukan yang bagus, Fahruji mulai melakukan persilangan. Dari anakan hasil kawin silang itu, ia menyiapkan calon ”atlet” untuk perlombaan berikutnya. Prosesnya tidak sebentar. Butuh waktu delapan bulan sampai setahun sebelum seekor merpati siap benar-benar diterbangkan jauh.

”Dua bulan pertama burung dikandangkan dulu biar kenal rumah. Setelah itu baru saya latih dilepas dengan jarak bertahap,” jelasnya. Latihan itu penuh risiko. Tak semua merpati bisa kembali. Ada yang nyasar, ada juga yang hilang di tengah jalan karena jadi santapan predator.

Dalam memilih burung untuk lomba, Fahruji tak mau asal. Ia memperhatikan dengan detail bentuk sayap, mata, lubang hidung, hingga berat tubuh. Semua harus seimbang dan sehat. ”Kalau ada cacat sedikit saja, saya coret. Soalnya daya terbangnya pasti berpengaruh,” katanya.

Ketelitian dan kesabarannya berbuah manis. Dalam tiga tahun terakhir, Fahruji menorehkan sederet prestasi di ajang nasional. Di antaranya Juara 1 Lomba Loncat Sumbawa 2023, Juara 3 Pulau Kangean 2024, dan Juara 1 di Pulau Bawean 2025. Di lomba Sumbawa, merpatinya mencatat waktu 14 jam dengan jarak tempuh 460 kilometer.

Meski sudah sering juara, bagian paling menyenangkan bagi Fahruji justru bukan saat menerima trofi, tapi saat menunggu burung-burungnya pulang. Biasanya ia duduk di teras rumah, secangkir kopi di tangan, menatap langit dengan harap-harap cemas. ”Rasanya lega banget kalau datang duluan dan lengkap,” tuturnya sambil tertawa.

Baginya, dunia merpati pos bukan sekadar soal kecepatan. Tapi tentang kesetiaan, ketekunan, dan kepuasan batin setiap kali burungnya menembus langit lalu pulang dengan selamat. (zan/adn)

Editor : A. Nugroho
#hewan peliharaan #Kompetisi #kawin silang #ajang nasional #merpati pos