MALANG KOTA - Pamor keris masih cukup tinggi di Kota Malang. Itu terbukti dari ramainya pengunjung pameran keris di Malang Creative Center (MCC), kemarin (8/11). Baik pengunjung kalangan tua maupun muda, tampak antusias membaca keterangan keris-keris yang dipamerkan.
Paling banyak mengundang decak kagum adalah salah satu keris di tengah ruangan. Namanya Dhapur Pandowo Cinarito. Yaitu keris dari era Kerajaan Sriwijaya yang memiliki panjang 37,5 sentimeter dengan luk lima.
”Keris ini melambangkan kecerdasan, firasat tajam, dan pandangan jauh pemiliknya,” ujar Wahyu Eko Setiawan, CEO TosanAji.id. Menurut dia, keris itu bisa menuntun pemiliknya membaca perjalanan hidup mereka. Yaitu berdasar panduan kejernihan hati untuk berjalan penuh kesadaran menuju masa depan.
Bahan warangka yang digunakan untuk keris itu dari gading. Langgamnya dibentuk dari aliran Melayu Palembang. Cincin dan hiasan gagang keris terbuat dari emas seberat 3,5 ons yang semakin menampilkan kegagahan pusaka kuno itu.
Selain memamerkan 30 keris dari kerajaan-kerajaan di Indonesia, mereka juga menyediakan surat identifikasi pusaka (SIP). Itu memudahkan pengunjung membaca identitas keris hanya dengan memindai kode batang di masing-masing keris. ”Jadi keris yang kami pamerkan tentu sudah teruji dan benar-benar masterpiece,” lanjut Wahyu.
Salah satu pengunjung bernama Painorawi rela terbang langsung dari Jakarta untuk mendatangi pameran itu. Selain untuk mencari koleksi baru, dia juga ingin mengidentifikasi keris termahalnya langsung kepada ahli. Painorawi mengaku mendapat keris naga luk lima yang dibawanya dari Jakarta pada tahun 2018.
”Waktu itu saya beli di harga Rp 175 juta,” ujar pria berusia 50 tahun itu. Painorawi memang sudah mengoleksi keris sejak tahun 1990-an. Saat ini, dia berjualan keris dan pusaka kuno lain di kawasan Sarinah, Jakarta.
Menurut penjual sebelumnya, keris yang dibawa pria paro baya itu dibuat pada era Hamengkubuwono III. Asalnya dari daerah Pakualaman, Jogjakarta. Cincin dan hiasan gagang berbentuk naganya asli dari emas, sehingga harganya mahal dan menarik minat Painorawi untuk membeli.
Editor : A. Nugroho