MALANG - Pottery class di Malang ramai diminati anak muda setiap akhir pekan. Peserta bisa membentuk tanah liat sesuai kreativitas sendiri dan membawa pulang hasil karyanya. Kelas ini juga menjadi tempat bertemu teman baru dari berbagai latar belakang.
Akhir pekan di Kampung Keramik Dinoyo kini bukan lagi sekadar urusan belanja kerajinan. Sejak dua tahun terakhir, kawasan ini berubah menjadi titik kumpul anak muda yang mencari pelepas penat.
Studio Yan’s Keramik yang puluhan tahun dikenal sebagai pabrik dan tempat karya wisata, kini justru paling ramai karena satu hal. Yakni pottery class. Perubahan ini terlihat jelas setelah Yan’s Keramik memperkenalkan program Lokakaryans.
Dari yang sebelumnya didominasi rombongan sekolah dengan agenda edukatif, kini justru mayoritas pengunjung adalah mahasiswa dan pekerja muda. Mereka datang bukan untuk belajar keramik secara formal, melainkan untuk “mengosongkan kepala” lewat aktivitas membentuk tanah liat.
”Memang sekarang banyak peserta yang bilang mereka butuh jeda. Pottery class jadi cara mereka mengurangi stres,” jelas Amalia, tim lapangan Lokakaryans.
Menurutnya, atmosfer kelas yang ringan dan tidak menuntut perfeksionisme membuat kegiatan ini cocok sebagai pengalihan dari rutinitas harian. Lokakaryans menyediakan enam paket kelas, namun yang paling dicari adalah clay art handbuilding seharga Rp 120 ribu. Peserta diberi 400 gram tanah liat untuk dibentuk bebas selama empat jam.
Tidak ada target bentuk, tidak ada standar hasil. Peserta tinggal mengikuti alur tangan, memilih warna sesuka hati, lalu memberi varnish untuk kilap akhir. Bagi yang ingin hasil fungsional, tersedia paket pottery handbuilding seharga Rp 150 ribu. Karena bahan food grade dan waterproof, karya bisa dijadikan gelas atau mangkuk setelah melalui pembakaran selama satu bulan.
Selain teknis yang mudah, suasana kelas yang cair menjadi poin penting mengapa Lokakaryans populer sebagai tempat menghilangkan stres. Mentor membimbing tanpa tekanan, peserta boleh bercanda, berbincang, bahkan jajan bakso ketika pedagang lewat. Interaksi terasa natural sehingga kelas lebih menyerupai ruang istirahat kreatif daripada workshop seni.
Fenomena ini menunjukkan bahwa anak muda kini cenderung mencari aktivitas fisik yang ringan, terukur, dan memberikan jeda dari layar gawai. Dinoyo pun menjelma menjadi ruang pemulihan alternatif tempat stres diredam, pikiran disegarkan, dan tanah liat menjadi medium sederhana untuk kembali stabil. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho