MALANG - Istilah ini biasa disematkan kepada orang yang kurang sopan.
Ada dua kemungkinan asal kata tersebut.
Yang pertama dari kata ugal-ugalan.
Sejarawan dan Pemerhati Bahasa Malangan Restu Respati menyebut, ndugal termasuk kata sifat.
Sedangkan dalam artian perilaku, biasanya disebut ugal-ugalan.
Ndugal dapat diartikan sebagai sifat kurang ajar.
Banyak contoh untuk menggambarkan ndugal.
"Seperti bandel, keras kepala, suka melawan, suka bertengkar dan suka memberontak,” jelas Restu.
Contoh kalimat, "nakal titik gak popo, sing penting ojok ndugal."
Dia menambahkan, orang yang memiliki karakter ndugal biasanya merupakan orang yang ceroboh atau semberono.
”Dalam kesenian bantengan, ndugal bisa disamakan dengan ndigar. Yakni mencerminkan sikap banteng yang liar, sulit diatur, dan tidak mau menurut,” sambung Restu.
Sementara itu, dari informasi yang dihimpun wartawan koran ini, kata ndugal sudah dipakai untuk menggambarkan salah satu tokoh wayang yakni Antasena.
Dia merupakan anak dari Werkudara atau Bima.
Dalam kisahnya, Antasena dijuluki sebagai Ksatria Ndugal Kawarisan.
Antasena mendapat julukan ndugal karena dia sulit diatur.
Menolak patuh terhadap sopan santun dan tidak menerima basa-basi duniawi.
Dia berpandangan bahwa hal tersebut cenderung menjebak manusia pada sikap kebohongan dan hipokritas. (adk/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana