”Koen lek duwe utang ojok macak kereng. Kudune sing ngutangi sing kereng,”
”Pi’i de poeng. Ket cilik aku yowes ngene,”
Pi’i De Poeng
RADAR MALANG - Ini masuk kategori umpatan khas Malang. Kata lain dari istilah bodo amat, atau pernyataan ketidakpedulian terhadap sesuatu. Istilah ini cukup familiar pada era 1990-an.
Kota Malang menjadi basis utama tersebarnya istilah ini. ”Awalnya digunakan di kelompok tertentu saja. Namun akhirnya menyebar ke sejumlah wilayah di Kota Malang. Tapi sampai saat masih banyak masyarakat yang belum paham maknanya,” kata Sejarawan dan Pemerhati Bahasa Malangan Restu Respati.
Dari pendalaman Jawa Pos Radar Malang, istilah itu dibagi dalam tiga makna. Sesuai jumlah kata di dalamnya. Pi’i bermakna biar atau biarkan. De merupakan kata penghubung yang sering digunakan dalam Bahasa Jawa. Itu menjadi salah satu ciri khas dalam bahasa gaul di Malang.
Sementara poeng merupakan serapan dari Bahasa Madura. Maknanya adalah sudah atau selesai. Dari asal muasal itulah, istilah pi’i de poeng menjadi salah satu bahasa gaul di Malang. ”Kemungkinan munculnya mulai tahun 1990-an. Sebab, pada era tersebut cukup banyak muncul bahasa gaul baru di Malang yang bukan walikan,” tambah Restu. (biy/by)
Editor : A. Nugroho