MALANG – Profesi sebagai ojek online (ojol) kini sudah menjadi pekerjaan yang akrab di telinga masyarakat. Sejak maraknya layanan transportasi berbasis aplikasi di Indonesia, ribuan orang menggantungkan hidup dengan menjadi mitra pengemudi.
Namun di balik kemudahan yang dirasakan pelanggan, para driver harus menghadapi tantangan yang tidak ringan. Bukan hanya soal waktu dan tenaga, tetapi juga soal keamanan diri mereka di jalan.
Imam, seorang pria asal Pujon yang sudah menjalani profesi ojol sejak sekitar tahun 2020, menuturkan bahwa rasa was-was tetap ada, terutama jika harus melewati daerah tertentu.
“Kalo sama barang-barang halus sih gak terlalu difikirkan kan kita niatnya gak ganggu ya,” ujarnya.
Meski demikian, Imam mengaku lebih berhati-hati jika harus melintas di wilayah yang dianggap rawan.
“Yang ditakutin sih daerah-daerah tertentu terutama pinggiran karena rawan, kalo sekarang sih sudah termasuk aman” tambahnya.
Kekhawatiran yang sama juga dirasakan oleh Tomi, pria asal Solerejo yang sudah empat tahun menjadi driver ojol sejak 2021. Ia mengaku punya cara tersendiri untuk menjaga keselamatan saat bekerja.
“Misalnya merasa terancam mending diturutin,” kata Tomi.
Baginya, keselamatan lebih penting dibanding mempertahankan barang atau menolak perintah orang yang berpotensi membahayakan.
Ia bahkan menghindari beberapa wilayah yang dikenal sebagai titik rawan begal. “Kalo daerah rawan begal, saya benar-benar menghindari, saya nggak ambil,” ungkapnya tegas.
Selain keamanan dari ancaman tindak kriminal, driver ojol juga menghadapi tantangan berat berupa kondisi fisik.
Hilmi Faiq Abdillah, salah satu driver, menuturkan bahwa faktor kelelahan adalah musuh utama mereka di lapangan. “Tantangan terberat selama ini adalah waktu dan kelelahan, bahkan kadang sampai microsleep,” ceritanya. Microsleep, atau tertidur sesaat tanpa sadar, bisa sangat berbahaya jika terjadi saat sedang berkendara di jalan raya.
Bagi Damas, pria asal Solo yang sudah tiga tahun menjadi driver ojol, tantangan terbesar justru datang saat harus bekerja di malam hari. “Yang paling bikin was-was itu narik malam hari. Jalanan sepi, kadang harus lewat gang kecil. Takut dirampok, iya, tapi kalau nggak berani ya nggak dapat rezeki. Jadi doa saja semoga selalu dilindungi,” ujarnya.
Meski rasa takut kerap menghantui, Damas tetap berusaha tenang dan menjadikan doa sebagai pegangan.
Menjadi driver ojol bukanlah pekerjaan sederhana. Di balik senyum saat mengantar penumpang atau pesanan, mereka menghadapi risiko nyata seperti rasa takut, kelelahan, hingga ancaman kriminal.
Meski begitu, setiap driver punya cara menjaga keselamatan, menghindari daerah rawan, menuruti jika terancam, hingga berpegang pada doa dan kewaspadaan.
Kesaksian Imam, Hilmi, Damas, dan Tomi menunjukkan bahwa keamanan driver ojol adalah hal penting.
Mereka bukan sekadar penyedia jasa, melainkan pekerja yang berjuang demi nafkah sambil memastikan diri tetap aman di jalan. (rv)
Editor : A. Nugroho