Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

 Melihat Fenomena Kopi Pagi Dikemas dengan Pesta Ringan ala Anak Muda: Ubah Kafe Jadi Ruang Vibing

A. Nugroho • Minggu, 14 Desember 2025 | 19:35 WIB

PECAH: DJ memainkan lagu ketika coffee party dengan disambut animo pengunjung yang datang di kafe Robucca.
PECAH: DJ memainkan lagu ketika coffee party dengan disambut animo pengunjung yang datang di kafe Robucca.

Pagi di Kota Malang kini punya warna baru. Dulu, ritual kopi pagi (kopag) hanya diisi percakapan pelan. Sekarang, dentuman musik elektronik sudah ikut menyapa sejak matahari belum tinggi. Generasi muda menyebutnya pesta kecil yang dibungkus dengan kopag.

Fenomena itu bermula dari gerakan kecil bernama Morning Beats Club (MBC). Sejak Juli lalu, komunitas ini mengajak warga Kota Malang merayakan pagi dengan cara yang lebih hidup.  Yakni coffee party.

Di balik konsep unik tersebut ada sosok Faris Kurniawan, pemuda Malang yang akrab dipanggil Pais. Inspirasi awalnya datang dari unggahan-unggahan luar negeri yang memadukan coffee culture dengan musik vibing.

Bertumpu pada ide itulah Pais meracik konsep sebuah ’morning coffee party” yang bisa langsung dikenali warga kota. ”Saya menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyusun format acara yang pas,” terang Pais.

Mulai dari alur musik, pemilihan DJ, hingga tampilan visual yang selaras dengan karakter anak muda Malang. Ia mengaku sangat ketat ketika menentukan DJ pengisi. Untuk MBC, ia hanya menggandeng DJ dengan selera musik dinamis, bersih, dan pas untuk mengisi pagi.

Menurutnya, beat seperti itu paling cocok untuk menciptakan atmosfer yang ia bayangkan. Selain musik, Pais juga memberi perhatian besar pada penampilan. Bagi dia, MBC bukan sekadar tempat menyeruput kopi.

”Ini juga arena bagi pengunjung untuk mengekspresikan gaya. Tidak perlu busana heboh, cukup outfit yang membuat orang nyaman seolah hendak berangkat ke sebuah party ringan di akhir pekan,” terangnya.

MBC pertama kali muncul di publik saat mengisi acara di Cafe Roketto pada pertengahan Juli. Saat itu pengunjungnya baru sekitar lima puluhan. Namun hanya dalam hitungan bulan, jumlahnya melonjak menjadi sekitar 170 orang setiap kali gelaran diadakan.

Mereka datang untuk menikmati espresso yang kuat, latte yang lembut, dan tentu saja musik yang mengisi ruang sejak jam delapan pagi. Soal lokasi, Pais hanya memilih kafe yang sudah punya karakter kuat. Baik dari rasa kopi maupun ambience ruangannya.

Menurutnya, acara bisa berjalan “nendang” jika tiga unsur bertemu. Kopi yang enak, tempat yang pas, dan penonton yang siap menikmati vibe pagi.

Namun membawa kultur pesta ala luar negeri ke Malang tidak selalu mulus. Pais mengakui bahwa tamu-tamu lokal cenderung malu-malu. Nyaris di tiap acara ia harus memberi contoh dulu agar orang lain ikut maju ke tengah ruangan. Harapannya, suatu saat nanti, pengunjung bisa lebih lepas menikmati musik tanpa komando.

Untuk menjaga antusiasme, MBC hanya digelar maksimal dua kali dalam sebulan. Bukan karena kekurangan peminat, tetapi justru agar tetap dirindukan. Sebuah cara menjaga ritme, supaya setiap pagi dengan MBC terasa seperti kejutan kecil yang pantas ditunggu. (aff/adn)

Editor : A. Nugroho
#kopi pagi #kafe malang