RADAR MALANG - Pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan berat di awal pekan menjelang libur panjang Lebaran 2026.
Kami kutip langsung dari IDX Channel Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan melanjutkan tren pelemahan di tengah pendeknya waktu perdagangan yang hanya tersisa dua hari sebelum pasar memasuki serangkaian libur hari raya.
Baca Juga: Sensus Ekonomi 2026 Dimulai Mei, BPS Kabupaten Malang Antisipasi Penolakan dan Minimnya Partisipasi
Analisis teknikal menunjukkan IHSG berpotensi terkoreksi menuju rentang 6.991 hingga 7.140.
Penurunan ini dipicu oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing pada sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps), terutama dari sektor perbankan dan konglomerasi.
Empat bank besar menjadi sasaran utama aksi jual asing saat IHSG turun 5,9% dalam sepekan terakhir:
-
BBRI (Bank Rakyat Indonesia): Mencatatkan net sell Rp971,99 miliar dengan harga turun 4,36%.
-
BMRI (Bank Mandiri): Terdepresiasi 0,7% dengan aksi jual asing mencapai Rp386,94 miliar.
-
BBCA (Bank Central Asia): Terkoreksi 1,79% dengan nilai penjualan mencapai Rp273,58 miliar.
Hal ini diakibatkan dari terjadinya konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang terus memicu ketidakpastian global, akibatnya berdampak langsung pada harga komoditas global.
Baca Juga: Kemendikdasmen Sebar 24 Ribu Buku Gratis melalui Program Mudik Asyik Baca Buku 2026
Seperti, emas yang seharusnya sebagai aset aman kini meredup dengan pelemahan harga dalam dua pekan berturut-turut.
Tekanan ini dipicu oleh penguatan nilai tukar Dolar AS dan kekhawatiran inflasi global.
Lalu ada juga CPO atau Minyak Sawit yang berbeda dengan emas, terpantau harga CPO justru melesat dalam sepekan mencapai level RM4.564 per ton atau jika dirupiahkan sebesar Rp19.761.024. Kenaikan ini terjadi selama dua pekan beruntun di Bursa Malaysia.
Editor : Aditya Novrian