KALIMANTAN UTARA, RADAR MALANG - Di balik pesatnya pembangunan di Kalimantan Utara, tersimpan sebuah warisan luhur dari Suku Tidung yang hingga kini masih memegang teguh identitas uniknya.
Berbeda dengan stereotip suku pedalaman Kalimantan pada umumnya, Suku Tidung merupakan masyarakat pesisir yang memiliki akar sejarah panjang sebagai sebuah kesultanan berdaulat yang disegani di wilayah utara Borneo.
Baca Juga: Misi Pria Asal Sukun, Kota Malang Gowes Keliling Eropa
Keunikan pertama yang jarang diketahui masyarakat umum adalah jati diri Suku Tidung sebagai "Dayak Pesisir" yang telah memeluk Islam sejak berabad-abad silam.
Hal ini menciptakan hibridasi budaya yang sangat kaya, di mana tradisi leluhur khas Kalimantan tetap terjaga namun berpadu selaras dengan nilai-nilai religius.
Identitas ini terlihat jelas dalam arsitektur rumah adat mereka yang megah, di mana ukiran khas motif alam menghiasi struktur bangunan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan muara dan pantai.
Dalam aspek tradisi, Suku Tidung memiliki ritual akbar bertajuk Iraw Tengkayu yang menjadi magnet budaya luar biasa namun masih jarang diulas secara mendalam di level nasional.
Ritual ini merupakan bentuk syukur atas hasil laut, yang ditandai dengan pelarungan Padaw Tujuh Dulung atau perahu hias berkepala tujuh ke laut lepas.
Keunikan dari perahu ini tidak hanya terletak pada estetika warna kuning, hijau, dan merah yang mencolok, tetapi juga pada filosofi angka tujuh yang melambangkan tujuh hari dalam seminggu serta tujuh lapis langit dan bumi.
Satu hal yang paling membedakan Suku Tidung dari entitas lain di Kalimantan adalah penggunaan pakaian adat Sina Beranti.
Pakaian ini sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial beberapa tahun lalu karena kemiripannya dengan busana dari budaya Asia Timur, padahal merupakan busana asli yang melambangkan kebesaran bangsawan Tidung.
Penggunaan mahkota dan perhiasan yang detail pada Sina Beranti menunjukkan betapa tingginya peradaban mereka dalam teknik kriya dan estetika busana sejak masa lampau.
Dari sisi gastronomi, Suku Tidung memiliki kearifan lokal dalam mengolah kekayaan alam pesisir menjadi kuliner yang eksotis.
Salah satu yang paling unik adalah Kapah, jenis kerang laut yang diolah dengan bumbu minimalis namun menawarkan rasa laut yang autentik.
Baca Juga: Ma Chung Kenalkan Budaya Tionghoa kepada Siswa-Siswi IPH Schools West Campus
Kebiasaan makan masyarakat Tidung yang mengutamakan hasil laut segar mencerminkan hubungan harmonis mereka dengan ekosistem perairan yang menjadi urat nadi kehidupan selama bergenerasi-generasi.
Sayangnya, meski memiliki kedalaman sejarah dan kekayaan seni yang luar biasa, eksistensi Suku Tidung masih minim literatur di kancah pendidikan nasional.
Banyak masyarakat umum yang belum menyadari bahwa Suku Tidung memiliki bahasa daerah yang sangat khas, yang secara linguistik berbeda dari bahasa Melayu maupun bahasa Dayak pedalaman lainnya.
Bahasa ini menjadi benteng terakhir yang menjaga orisinalitas pemikiran dan filosofi hidup masyarakat Tidung di tengah gempuran modernisasi.
Melalui upaya pelestarian budaya yang terus digalakkan oleh tokoh adat dan pemerintah setempat, Suku Tidung perlahan mulai menampakkan pesonanya ke permukaan.
Mengetahui keunikan Suku Tidung bukan sekadar menambah wawasan tentang keragaman Nusantara, melainkan bentuk apresiasi terhadap sebuah peradaban maritim di beranda depan Indonesia yang telah berjuang menjaga kedaulatan budaya di garis perbatasan.
Editor : Aditya Novrian