JAKARTA, RADAR MALANG - Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), kini tengah berada di bawah sorotan publik akibat potongan video ceramahnya yang viral di media sosial.
Dalam tayangan tersebut, JK menyinggung konsep "mati syahid" dalam konteks konflik masa lalu di Poso dan Ambon yang melibatkan komunitas Muslim dan Kristen.
Baca Juga: Amerika Serikat Bebas Lewati Langit Indonesia? Berikut Penjelasan Kemhan Terkait Usulan Tersebut
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari berbagai organisasi masyarakat dan lembaga keagamaan Kristen di seluruh Indonesia.
Mereka menilai ucapan JK tidak akurat dan berpotensi mencederai kerukunan antarumat beragama yang selama ini dijaga dengan erat.
Aliansi Advokat Lintas Agama Indonesia bahkan telah melayangkan somasi terbuka yang memberikan waktu dua kali 24 jam bagi JK untuk mengklarifikasi pernyataannya.
Baca Juga: Dewan Rekomendasi Bongkar Taman Lantai Tiga Pasar Besar, Berikut Respons Pemkot Malang
Mereka mendesak agar JK mencabut ucapan tersebut dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada umat Kristiani.
Secara spesifik, keberatan utama muncul karena ajaran Kristen ditegaskan tidak mengenal konsep membunuh orang lain sebagai jalan menuju surga atau "syahid".
Baca Juga: Diplomasi Moskow Berhasil, Indonesia dan Rusia Sepakati Kerja Sama Energi Jangka Panjang
Sebaliknya, perwakilan lembaga Kristen menyatakan bahwa agama mereka mengajarkan kasih terhadap sesama manusia, termasuk kepada musuh sekalipun.
Di sisi lain, juru bicara Jusuf Kalla memberikan pembelaan dengan menyebutkan bahwa video yang beredar telah dipotong dan keluar dari konteks aslinya.
Baca Juga: Legislator Dorong RUU Ketenagakerjaan Mampu Tekan Kesenjangan Upah Antarwilayah
Menurutnya, JK sebenarnya sedang memberikan pembelajaran sejarah mengenai betapa sulitnya meredam konflik yang sudah membawa sentimen agama.
Pihak JK menjelaskan bahwa narasi tersebut merupakan analisis sosiologis tentang bagaimana kedua pihak yang bertikai di masa lalu sama-sama merasa benar.
Baca Juga: Skandal Grup Chat Mahasiswa FH UI: 16 Mahasiswa Minta Maaf Usai Terseret Kasus Objektifikasi Seksual
Oleh karena itu, jubir JK menyarankan agar pihak kepolisian justru mengusut pengunggah pertama video yang telah memberi narasi menyesatkan tersebut.
Hingga saat ini, situasi masih berkembang dengan adanya laporan resmi ke pihak kepolisian dari berbagai elemen masyarakat yang merasa dirugikan.
Publik kini menanti langkah klarifikasi langsung dari tokoh nasional tersebut guna meredam kegaduhan dan menjaga stabilitas sosial nasional.
Editor : Aditya Novrian