RADAR MALANG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa curah hujan tinggi pada awal Mei 2026 merupakan fenomena normal dalam fase peralihan musim.
Kondisi ini dipicu oleh adanya aktivitas udara rotasional akibat perubahan iklim yang secara teknis terdeteksi melalui kemunculan tiga bibit siklon tropis sekaligus.
Baca Juga: Kemarau 2026 Datang Lebih Cepat, Waspada Alarm Kenaikan Harga Beras yang Diprediksi Alami Fluktuasi
"Ini bukan hal aneh, melainkan normal terjadi karena kita masih berada di fase peralihan musim yang sedang berlangsung," tulis BMKG lewat akun resminya pada Selasa (21/4/2026).
Hingga periode tersebut, tercatat baru sekitar 7,8 persen wilayah di Indonesia yang secara resmi telah memasuki musim kemarau tahun ini.
Apa Faktor Pendukung Terjadinya Musim Hujan di Awal Kemarau?
Selain itu juga terpantau adanya bibit siklon 90S di selatan Jawa, 93S di barat laut Australia, dan 92P di selatan Papua.
Ketiga bibit siklon ini berinteraksi dengan sistem atmosfer besar, seperti gelombang Kelvin dan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang memperkuat pertumbuhan awan hujan.
Baca Juga: Prediksi Cuaca Kota Malang 5 Mei 2026: Hujan Ringan di Sejumlah Wilayah
Saat ini, sebanyak 531 Zona Musim atau sekitar 76 persen wilayah Indonesia terpantau masih berada dalam periode musim hujan.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan hujan lebat yang diprediksi masih akan mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia.
Baca Juga: Diduga Terpeleset, Pencari Ikan Meninggal di Sungai
Kondisi atmosfer yang dinamis ini diperkirakan akan terus mempengaruhi ketidakpastian cuaca hingga seluruh zona musim benar-benar memasuki kemarau.
Editor : Aditya Novrian