JAKARTA, RADAR MALANG – Anggota Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP) sekaligus mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan HAM, Mahfud MD, buka suara terkait budaya “militerisasi” yang dinilai tidak cocok diterapkan dalam tubuh polri.
Ia menyatakan bahwa menerapkan budaya “militerisasi” bukanlah tindakan yang salah, namun kurang tepat jika budaya tersebut diterapkan dalam institusi polri yang bertugas mengayomi masyarakat.
“Gaya militer tuh salah atau enggak? Enggak, tapi tidak cocok untuk Polri,” kata Mahfud dalam jumpa pers di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (7/6).
Baca Juga: Angin Segar! Predator Seks Santriwati Ponpes Ndholo Kusumo Berhasil Dibekuk
Ia berpendapat bahwa militer memiliki tanggung jawab utama dalam menjaga pertahanan negara. Hal tersebut menjadikan militer memiliki karakter komando yang ketat, disiplin tinggi, dan cenderung represif.
“(Militeristik) itu bukan jelek. Nah itu tidak cocok untuk Polri yang tugasnya mengayomi, melayani, melindungi dan sebagainya itu,” jelas dia.
Ia menilai bahwa kesesuaian fungsi seharusnya lebih diperhatikan, sehingga ia meyakini bahwa, polisi tidak perlu meniru gaya militer. Sama hal nya profesi lain, tidak bisa saling mengganti peran.
Baca Juga: Jaga Profesionalisme! Kapolri Larang Anggota Live Streaming saat Bertugas
Sebagai aparat penegak hukum yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, Polri seharusnya fokus pada pendekatan sipil atau civilian police.
Mahfud menambahkan bahwa seharusnya Polri dapat menjadi citra “protagonis” sehingga peran serta polisi dapat dirasakan secara positif oleh masyarakat.
Selain itu, Polri diharapakan dapat menjadi figur yang dekat dengan masyarakat, lebih demokratis, dan transparan guna membangun hubungan yang lebih bersahabat.
Baca Juga: Laka, Bus ALS Vs Truk Tangki Hingga Terbakar dan Tewaskan 16 Penumpang
Melalui rekomendasi KPRP, Mahfud mendorong penguatan jati diri Polri sebagai polisi sipil atau civilian police. Selain itu, ia juga mendesak penghapusan perilaku-perilaku negatif yang timbul akibat salah kaprah budaya militeristik, seperti arogansi jabatan dan gaya hidup hedonis.
"Paradigmanya harus kembali ke Tribrata dan Catur Prasetya. Jangan menjadi antagonis atau musuh masyarakat. polisi harus menjadi rujukan yang disenangi orang," pungkasnya.
Editor : Aditya Novrian