Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Update Terbaru! Rupiah Kembali Loyo Hingga Rp17.600 per Dolar AS Hari Ini, Beberapa Industri Mulai Tertekan

Fitri Cahya Dwi Anggriani • Jumat, 15 Mei 2026 | 22:00 WIB
KEMBALI MEROSOT: Nilai tukar rupiah kini menyentuh Rp17.600 per dolar AS. (Sumber: Istimewa)
KEMBALI MEROSOT: Nilai tukar rupiah kini menyentuh Rp17.600 per dolar AS. (Sumber: Istimewa)

JAKARTA, RADAR MALANG – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika semakin merosot. Kini dikabarkan nilai tukar rupiah mencapai Rp17.600 per dolar AS pada perdagangan, Jumat (15/5). Hal tersebut dipicu oleh memanasnya geopolitik global. Rupiah melemah 71 poin atau 0,41 persen.

Berdasarkan data Google Finance Jumat pagi, nilai tukar rupiah sempat tembus Rp17.612. Setelah itu menurun kembali di angka Rp17.579. Naik turun kusr rupiah ini dipicu oleh perang Iran-AS yang semakin menguatkan indeks dolar AS.

Ibrahim Assuabi selaku Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas turut menyampaikan bahwa rupiah melemah karena menguatnya indeks dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Melemah Hingga Rp17.529 Per Dolar AS, Menkeu Siap Mengambil Langkah Tegas

"Saya melihat bahwa rupiah hari ini diperdagangkan melemah karena menguatnya dolar Amerika pada perdagangan hari ini, kemarin pun juga pada memasuki pasar Amerika, indeks dolar terus mengalami penguatan," ungkap Ibrahim, Jumat (15/5).

Selain itu, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menyampaikan bahwa beberapa industri, khususnya indursti tekstil menjadi sektor yang rentan karena bahan baku industri tersebut didominasi oleh bahan impor, sehingga kenaikan kurs dolar AS ini akan menambah biaya produksi.

Industri bahan kimia, industri farmasi, hingga sektor otomotif turut merasakan dampaknya. Bahan baku industri-industri ini masih bergantung pada bahan impor.

Baca Juga: Tembus Rp17.400, Mengapa Rupiah Melemah di Tengah Pertumbuhan Ekonomi 5,61%?

“Pertama ya, itu kan bahan baku penolong buat industri. Yang industri tekstil. Itu kan bahan bakunya itu sebagai besar impor. Kemudian industri bahan kimia ini juga terdampak bahan bakunya impor. Industri obat-obatan itu sebagai besar impor. Termasuk juga kendaraan otomotif yang tidak diproduksi di Indonesia masih ikut naik,” paparnya.

Kemudian, terdapat industri besi dan baja yang ikut terdampak, karena industry tersebut masih menggunakan bahan baku impor sebagai proses produksi.

Terkait harga makanan dan minuman, Tauhid menilai bahwa tidak ada kenaikan yang signifikan akibat melemahnya nilai tukar rupiah. Ia menjelaskan, sektor makanan dan minuman lebih tahan terhadap gejolak kurs.

Baca Juga: Viral Main Game dan Merokok Saat Rapat, Anggota DPRD Jember Minta Maaf ke Publik: Saya khilaf

Meski mendapat tekanan yang luar biasa, rupiah sempat menunjukkan penguatan ke posisi Rp 17.596 pada Jumat (15/5), pukul 15.00 WIB. Ibrahim menilai, kebijakan intervensi otoritas moneter sudah tepat guna mengimbangi pasar domestik yang sedang tidak beroperasi.

Editor : Aditya Novrian
#rupiah menurun #rupiah #dolar as