JAKARTA – Rapat Kerja antara Komisi XI DPR RI dan Bank Indonesia (BI) diwarnai ketegangan tinggi, para anggota dewan mencecar keras Gubernur BI Perry Warjiyo terkait kejatuhan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.688 per dolar Amerika Serikat pada Senin, (18/05/2026).
Anggota Komisi XI DPR RI menilai adanya kejanggalan besar dalam pemaparan bank sentral yang mengklaim pergerakan mata uang domestik masih berada dalam kondisi "relatif stabil" jika dibandingkan negara lain.
Baca Juga: Rupiah Melemah Hingga Rp17.529 Per Dolar AS, Menkeu Siap Mengambil Langkah Tegas
Parlemen mempertanyakan akurasi indikator internal BI mengingat gejolak depresiasi ini telah melahirkan sentimen negatif serta kenaikan harga-harga barang yang langsung menekan ekonomi masyarakat di akar rumput.
Anomali Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
DPR menyadari adanya anomali pertumbuhan ekonomi Indonesia, berawal dari kritik tajam yang datang dari Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PAN, Primus Yustio yang melabeli pelemahan nilai tukar ini sebagai bentuk anomali ekonomi.
Baca Juga: Prabowo Saat Rupiah Loyo: Rakyat Desa Enggak Pakai Dolar, tapi Begini Kenyataannya
Primus menggarisbawahi bahwa di tengah laju pertumbuhan ekonomi nasional yang diklaim kokoh berada di angka 5,61%, nilai tukar rupiah justru jeblok hingga memecahkan rekor terendah sepanjang sejarah.
Kondisi bursa dalam negeri kian mengkhawatirkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ikut anjlok 1,4% ke level 6.628,97 pada pembukaan perdagangan Senin pagi.
Parlemen menilai jatuhnya pasar modal dan obligasi ini merefleksikan adanya masalah serius pada aspek trust (kepercayaan) investor global terhadap kualitas kebijakan bank sentral.
Dugaan Bank Indonesia Menguras Habis Cadangan Devisa Negara
Dalam rentetan interogasi, DPR membongkar fakta bahwa Bank Indonesia sebenarnya telah menguras habis berbagai instrumen moneter demi menahan laju depresiasi, namun hasilnya dinilai tidak efektif.
BI tercatat melakukan intervensi pasar besar-besaran yang memangkas cadangan devisa negara secara drastis dari 156 miliar dolar AS menjadi tinggal 146 miliar dolar AS.
Tak hanya itu, BI Rate (melalui SRBI) telah dikerek naik ke level 6,41%, disusul langkah pengetatan pembelian dolar harian dari batas 50.000 dolar AS diturunkan ke 25.000 dolar AS, hingga pembelian SBN kumulatif bernilai ratusan triliun rupiah.
Baca Juga: Anjloknya Rupiah Picu Kekhawatiran Inflasi, BI Optimalkan Instrumen Moneter
DPR mempertanyakan mengapa rentetan pengetatan ekstrem tersebut gagal total membendung pelemahan rupiah.
Respon Menteri Keuangan Purbaya selaku Pemerintah Eksekutif
Merespons kepanikan pasar, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa turut buka suara dan menegaskan bahwa situasi ambruknya rupiah dan IHSG saat ini murni akibat sentimen jangka pendek geopolitik global global, bukan fundamental domestik.
Baca Juga: QRIS Resmi Merambah Jepang dan Tiongkok, Digitalisasi Rupiah Tembus Pasar Global
Purbaya meminta publik tidak menyamakan situasi sekarang dengan krisis finansial tahun 1998.
Menurutnya, krisis 1998 dipicu oleh fatalnya kesalahan regulasi serta instabilitas sosial-politik setelah Indonesia didera resesi panjang.
Editor : Aditya Novrian