Museum ini merupakan hasil pengembangan yang dimulai sejak 2018. Awalnya, proyek tersebut berfokus pada digitalisasi arsip untuk menyelamatkan berbagai dokumen bersejarah milik ITB sebelum berkembang menjadi museum fisik dengan konsep modern dan interaktif. Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara, menyebut museum ini bukan sekadar tempat menyimpan koleksi, melainkan ruang pengetahuan, refleksi, dialog, dan inspirasi yang dapat dinikmati seluruh kalangan.
Baca Juga: Museum Gunakan AI untuk Hadirkan Theodore Roosevelt, Trump Jajal Teknologi Hologram
Pengunjung dapat menjelajahi empat zona tematik yang mengisahkan perjalanan ITB, mulai dari sejarah pendirian Technische Hoogeschool te Bandoeng pada 1920, perkembangan riset dan pendidikan, dinamika kehidupan kampus, hingga berbagai inovasi yang mengarah ke masa depan. Salah satu daya tarik utamanya adalah 360° Theater Dome, ruang teater imersif berbasis teknologi digital yang menyajikan pengalaman audio visual mengenai sejarah, sains, teknologi, dan kontribusi ITB.
Dalam sambutannya, Fadli Zon menilai Museum ITB telah menerapkan konsep permuseuman modern melalui pemanfaatan teknologi digital, visual interaktif, dan pengalaman partisipatif bagi pengunjung. Menurutnya, museum masa kini tidak lagi hanya menjadi tempat melihat koleksi, tetapi juga ruang belajar yang hidup dan mampu melibatkan pengunjung secara aktif.
Fadli Zon juga mengajak perguruan tinggi yang telah berusia lebih dari 50 tahun untuk membangun museum kampus sebagai pusat edukasi, riset, sekaligus pelestarian sejarah institusi. Ia menyebut Indonesia saat ini memiliki sekitar 516 museum yang telah teregistrasi dan berharap kehadiran Museum ITB dapat mendorong lahirnya lebih banyak museum kampus sebagai bagian dari penguatan ekosistem budaya dan pendidikan nasional.
Baca Juga: Teater Boneka Asal Jogja Disambut 10 Menit Standing Ovation di Jerman
Editor : Aditya Novrian