Meski tergolong kecil, gempa ini menambah panjang daftar rangkaian guncangan yang terus terjadi di wilayah tersebut selama lebih dari tiga minggu terakhir. Rangkaian gempa di Sigi bermula dari gempa utama berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada 16 Juni 2026.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat gempa utama itu menyebabkan tiga orang meninggal dunia, sekitar 125 orang terluka, serta lebih dari 2.300 rumah rusak di sembilan kecamatan di Kabupaten Sigi. Selain rumah warga, puluhan tempat ibadah, sekolah, hingga gedung perkantoran juga terdampak.
Baca Juga: Enam Bulan Malang Dilanda 69 Kali Gempa Bumi
Sejak gempa utama tersebut, BMKG terus mencatat gempa susulan dalam jumlah besar. Data yang dihimpun menunjukkan jumlah gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 5,3. Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro, menjelaskan bahwa gempa-gempa ini tergolong gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas Sesar Palolo, salah satu sesar aktif yang melintasi wilayah Sulawesi Tengah.
Oleh sebab itu, warga diimbau untuk tetap menghindari bangunan yang sudah retak atau rusak, serta memastikan hanya mengikuti informasi resmi dari kanal terverifikasi seperti akun media sosial @infoBMKG dan situs resmi BMKG.
Sejumlah langkah kesiapsiagaan sederhana juga bisa mulai diterapkan warga di lingkungan masing-masing, seperti menata ulang perabotan rumah agar tidak mudah roboh saat terjadi guncangan, mengenali jalur evakuasi terdekat, serta menyiapkan tas siaga bencana berisi kebutuhan pokok darurat.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Selatan Jember, Getaran Terasa hingga Malang
Kebiasaan sederhana ini penting karena gempa bumi merupakan fenomena alam yang tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi, sehingga kesiapan warga menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko korban jiwa maupun kerugian materiil saat bencana benar-benar terjadi.