Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Indonesia Jadi Negara dengan Belanja Pendidikan Terendah di Kelompok Ekonomi Besar Dunia

Hanif Pratama • Kamis, 16 Juli 2026 | 23:29 WIB
ILUSTRASI aktivitas belajar mengajar di sebuah sekolah (pexels)
ILUSTRASI aktivitas belajar mengajar di sebuah sekolah (pexels)
MALANG, RADAR MALANG – Indonesia tercatat sebagai negara dengan alokasi belanja pendidikan terendah di antara negara-negara dengan ekonomi terbesar dunia. Berdasarkan data terbaru UNESCO Institute for Statistics, Indonesia hanya mengalokasikan 1,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk sektor pendidikan, menempatkannya di posisi terbawah dalam kelompok sekitar 40 negara dengan ekonomi terbesar dunia.

Ironi di Tengah Bonus Demografi

Temuan ini menjadi sorotan karena Indonesia memiliki proporsi penduduk usia muda yang sangat besar. Sebanyak 40,2 persen penduduk Indonesia berusia 24 tahun ke bawah, salah satu yang tertinggi di antara negara-negara dalam daftar tersebut.

UNESCO menilai terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara rendahnya investasi pendidikan dan besarnya jumlah penduduk usia muda yang membutuhkan akses pendidikan berkualitas. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia, produktivitas tenaga kerja, serta daya saing ekonomi Indonesia pada masa mendatang.

Baca Juga: Deadline Numpuk? Ini 3 Kafe 24 Jam di Malang yang Nyaman Buat Nugas Sampai Subuh

Tertinggal dari Negara Tetangga

Alokasi belanja pendidikan Indonesia juga tercatat lebih rendah dibanding sejumlah negara di kawasan Asia.

Pakistan dan Bangladesh masing-masing mengalokasikan 2 persen PDB untuk pendidikan. Singapura berada di angka 2,2 persen, Thailand 2,5 persen, Vietnam dan Irlandia 2,9 persen, Türkiye 3,1 persen, serta Rumania dan Jepang masing-masing 3,3 persen.

Berikut 10 negara dengan proporsi belanja pendidikan terendah terhadap PDB:

  1. Indonesia — 1,3 persen

  2. Pakistan — 2,0 persen

  3. Bangladesh — 2,0 persen

  4. Singapura — 2,2 persen

  5. Thailand — 2,5 persen

  6. Vietnam — 2,9 persen

  7. Irlandia — 2,9 persen

  8. Türkiye — 3,1 persen

  9. Rumania — 3,3 persen

  10. Jepang — 3,3 persen

Sebaliknya, Swedia menjadi negara dengan alokasi belanja pendidikan tertinggi di antara kelompok negara ekonomi besar dunia.

Jika cakupan diperluas secara global, negara-negara kepulauan kecil justru mendominasi daftar pengeluaran pendidikan terbesar terhadap PDB. Kiribati tercatat mengalokasikan 16,4 persen PDB untuk pendidikan, diikuti Tuvalu 12,9 persen, Mikronesia 11,6 persen, Namibia 9,1 persen, dan Aljazair 9 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa besarnya anggaran pendidikan tidak selalu ditentukan oleh tingkat kemajuan ekonomi suatu negara, tetapi juga dipengaruhi prioritas kebijakan, struktur demografi, dan kapasitas fiskal masing-masing negara.

Paradoks Anggaran Pendidikan Indonesia

Temuan UNESCO juga menyoroti paradoks kebijakan pendidikan Indonesia. Sejak 2009, pemerintah menetapkan alokasi minimal 20 persen APBN untuk sektor pendidikan melalui kebijakan mandatory spending.

Baca Juga: Akan Didakwa Terima Gratifikasi Rp5,7 Miliar di Kasus Suap Blueray Cargo, Begini Perjalanan Proses Hukum Budiman Bayu Prasojo

Meski dari sisi anggaran negara porsinya tergolong besar, jika diukur terhadap PDB, belanja pendidikan Indonesia masih tertinggal dibanding sejumlah negara lain, termasuk Vietnam dan beberapa negara berkembang di kawasan.

Pakar ekonomika pendidikan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Gumilang Aryo Sahadewo, menilai peningkatan anggaran pendidikan yang terus terjadi selama dua dekade terakhir belum sepenuhnya diikuti peningkatan kualitas hasil belajar.

Ia mencontohkan Human Capital Index (HCI) Indonesia pada 2020 yang berada di angka 0,54. Artinya, anak yang lahir saat ini diperkirakan hanya akan mencapai 54 persen dari potensi produktivitas maksimalnya ketika dewasa.

Selain itu, hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan lebih dari 75 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun belum mencapai kompetensi minimum dalam matematika dan literasi membaca.

Sejumlah pengamat pendidikan juga menilai persoalan utama tidak hanya terletak pada besaran anggaran, tetapi juga efektivitas distribusi dan pemanfaatannya. Karena itu, perbaikan tata kelola serta peningkatan kualitas belanja pendidikan dinilai sama pentingnya dengan penambahan alokasi anggaran itu sendiri.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : dikelola dari beberapa sumber
Belanja Pendidikan UNESCO pendidikan indonesia