MALANG, RADAR MALANG – Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda menunjukkan pengingkatan aktivitas vulkanik yang signifikan sejak Senin, (17/8/2026) lalu. Diketahui dalam 2 hari belakangan, Gunung Anak Krakatau telah mengalami erupsi sebanyak 20 kali terhitung pada 17 Agustus hingga 18 Agustus 2026 kemarin.
Kamera pengawas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyimpan rekaman saat terjadinya erupsi di tanggal 18 Agustus 2026 kemarin. Rekaman tersebut menunjukkan momen erupsi Gunung Anak Krakatau yang disertai dengan 61 kali hembusan abu vulkanik.
Letupan abu vulkanik tersebut melambung ke udara setinggi 100 hingga 400 meter dari puncak kawah gunung. Material letupan abu vulkanik ini bahkan terbawa angin dan menyentuh Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.
Baca Juga: Wisata Gunung Bromo Ditutup hingga 15 Agustus setelah 921 Hektare Lebih Lahan Terbakar
Sekretaris Desa Tejang, Pulau Sebesi, Riko Iswanto mengaku bahwa hujan abu vulkanik ini telah melanda Pulau Sebesi selama 3 hari terakhir. Tingginya intensitas abu ini bahkan menimbulkan beberapa gangguan kesehatan pada masyarakat. Di antaranya gangguan pernafasan seperti sesak nafas dan gangguan pengelihatan pada mata.
"Abu vulkanik sudah terjadi sejak tiga hari terakhir ini. Sudah banyak warga di sini mengeluhkan abu vulkanik,” ungkap Riko. Dilannsir dari Metrotv News.
Baca Juga: Ini Alasan Pemerintah Menggelar Simulasi Antisipasi Erupsi Gunung Kelud Masuk Kabupaten Malang
Riko juga menyampaikan bahwa masyarakat Pulau Sebesi berharap pemerintah dapat memberikan bantuan masker kepada warga untuk mengurangi risiko sesak napas akibat adanya abu vulkanik.
Hingga saat ini PVMBG menetapkan status Gunung Anak Krakatau dalam Level III atau Siaga. PVMG juga mengimbau masyarakat termasuk para nelayan untuk mengurangi aktivitas luar ruangan dan menjauhi area kawah Gunung Anak Krakatau dalam radius dua kilometer.
Editor : Aditya Novrian
Sumber : Diolah dari beberapa sumber