MALANG, RADAR MALANG – Suahasil Nazara resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa di Istana Presiden Senin (14/9) kemarin. Pergantian posisi menteri keuangan ini merupakan reshuffle kabinet yang dilakukan berdasarkan perintah Presiden Prabowo Subianto melalui Keputusan Presiden Nomor 96/P Tahun 2026.
Pergantian posisi menteri keuangan ini menjadi kabar yang cukup mengejutkan bagi masyarakat. Lantarannya, Purbaya baru saja menjabat sebagai menteri keuangan selama 1 tahun.
Selain terbilang mengejutkan, Pelantikan Suahasil Nazara sebagai menteri keuangan ini mencatatkan Suahasil sebagai menteri keuangan ketiga dalam kepemimpinan presiden prabowo.
Baca Juga: Prabowo Reshuffle Kabinet, Suahasil Nazara Gantikan Purbaya sebagai Menteri Keuangan
Reshuffle kabinet ini pada akhirnya menimbulkan spekulasi diantara masyarakat mengenai penyebab dibalik pergantian jabatan menteri keuangan yang telah dilakukan 3 kali oleh Prabowo.
Seorang pakar ilmu politik Universitas Islam Internasional Indonesia, Djayadi Hanan turut menyampaikan prediksinya terkait alasan pergantian jabatan menteri keuangan ini. Djayadi menilai bahwa penyebab reshuffle ini berhubungan dengan ungkapan kontroversial Purbaya yang kerap kali menimbulkan respons negatif dari pasar.
"Kementerian Keuangan, Menteri Keuangan ya itu kan terus-menerus memantik kontroversi. Pernyataan-pernyataannya, kemudian berbagai pola komunikasinya yang menimbulkan respons negatif dari pasar kemudian respons negatif dari berbagai stakeholder," ungkap Djayadi. Dilansir dari Kompas.com.
Selain menyinggung tentang ungkapan kontroversial, pakar ilmu politik tersebut juga menyebutkan bahwa kebijakan Purbaya dalam memotong anggaran dana daerah juga dinilai dapat menjadi penyebabnya.
Djayadi menilai bahwa alasan terbesar pencopotan Purbaya ini disebabkan oleh komunikasi bergaya ’koboi’ yang kerap dilakukan oleh mantan menkeu tersebut.
Menurut Djayadi, keputusan Prabowo dalam reshuffle ini bertujuan untuk meredam ketegangan komunikasi antara menteri dan memulihkan kepercayaan masyarakat.
Editor : Aditya Novrian
Sumber : Diolah dari beberapa sumber