MALANG, RADAR MALANG – Kondisi kebakaran kawasan hutan dan lahan di sejumlah provinsi di Kalimantan dan Sumatera belum juga dapat dipadamkan. Meski titik panas kebakaran sudah mulai berkurang dari bulan Agustus lalu, Kementerian Kehutanan melaporkan bahwa masih terdapat sebanyak 592 hotspot yang terdeteksi di karhutla Kalimantan dan Sumatera.
Kebakaran karhutla yang telah berangsur selama 1 bulan lebih ini menimbulkan dampak buruk bagi kualitas udara di kedua pulau tersebut. Hingga Hari ini, Stasiun Meteorologi Kelas II Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda melaporkan bahwa kualitas udara di daerah Ibu Kota Kalimantan Timur dan sekitarnya menyentuh nilai kategori yang sangat tidak sehat.
Baca Juga: Karhutla Jemplang Bromo Padam, Tiga Titik Masih Terpantau Berasap
Kepala Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor menyampaikan bahwa polusi udara di Samarinda memiliki partikulat yang mencapai 210,4 µg/m³ dan dikategorikan sebagai kondisi yang sangat tidak sehat.
"Partikulat udara berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk langsung ke saluran pernapasan. Dengan konsentrasi yang mencapai 210,4 µg/m³, kondisi ini berada pada kategori sangat tidak sehat," ungkap Riza. Dilansir dari Antara News.
Baca Juga: Karhutla di Gunung Buthak Berlanjut ke Puncak Gunung Kawinajang
Terbakarnya lahan dan hutan dalam jangka lama menimbulkan asap tebal yang menyelimuti Samarinda hingga hari ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melaporkan bahwa kondisi langit Samarinda terpantau berawan tebal sejak pagi.
Adapun BPBD Samarinda, Ifran turut menkonfirmasi kondisi udara Samarinda yang hari ini menurun. Ifran mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Ia juga menekankan himbauan tersebut untuk dapat dipatuhi terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernafasan.
Editor : Aditya Novrian
Sumber : Diolah dari beberapa sumber