"Dalam pertemuan tersebut, Presiden meminta update perkembangan pembangunan 100 Kampung Nelayan yang tengah dipersiapkan pemerintah," tulis Teddy dalam unggahan tersebut.
Berdasarkan dokumentasi yang dibagikan Sekretariat Kabinet, sejumlah pejabat lain turut hadir di Hambalang, yakni Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Teddy Indra Wijaya sendiri.
Teddy menjelaskan, pemerintah menargetkan 100 Kampung Nelayan Merah Putih siap beroperasi pada akhir 2026. Setiap kawasan akan dilengkapi fasilitas penunjang, mulai dari dermaga untuk aktivitas penangkapan dan pendaratan ikan, pabrik es dan fasilitas penyimpanan dingin (cold storage) untuk menjaga mutu hasil tangkapan, hingga pasar sebagai pusat jual beli hasil perikanan warga setempat.
"Pembangunan Kampung Nelayan menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ekosistem kelautan dan perikanan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir," tulis Teddy.
Program ini dirancang sebagai penyediaan infrastruktur perikanan yang terintegrasi, mencakup sarana produksi, pengolahan, penyimpanan, hingga pemasaran. Dengan rantai yang terhubung dari laut sampai pasar, pemerintah berharap nelayan tidak lagi kehilangan nilai jual akibat ikan cepat rusak atau akses pasar yang terbatas.
Sebelumnya, dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR dan DPD RI, Jumat (14/8/2026), Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah telah membangun 100 Kampung Nelayan Merah Putih. Ia juga menargetkan sebanyak 1.386 kampung nelayan berdiri dan berfungsi pada akhir Desember 2026.
Target tersebut kembali dipertegas Prabowo saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026). Kala itu, ia memasang sasaran pembangunan hingga 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih di berbagai wilayah Indonesia sebelum 2029.
"Kita yang tidak pernah diperhatikan selama sekian puluh tahun, tahun ini akan menyelesaikan 1.300 kampung nelayan dan tahun depan sasaran kita 2.000 kampung nelayan. Tahun 2028, 2.000 lagi. Sebelum 2029 sasaran kita 5.000 kampung nelayan," kata Prabowo.
Menurut Prabowo, kampung nelayan nantinya tidak hanya dilengkapi ruang pendingin dan fasilitas pembuatan es, tetapi juga stasiun pengisian bahan bakar minyak (SPBU), gudang, serta kendaraan untuk mendistribusikan hasil tangkapan ke pasar. Ia bahkan membuka kemungkinan pembangunan bandara di dekat kawasan kampung nelayan.
"Kalau perlu kita akan bikin lapangan terbang dekat kampung-kampung nelayan itu supaya ikan yang bernilai masih segar bisa diangkut dengan pesawat menuju pasar-pasar dunia," ujar Prabowo.
Ia menilai infrastruktur tersebut penting untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan sekaligus membuka akses nelayan ke pasar internasional. Selain fasilitas darat, pemerintah disebut telah memesan sedikitnya 1.500 kapal nelayan berukuran hingga 100 gros ton (GT) yang akan disalurkan ke kampung-kampung nelayan.
"Pokoknya para nelayan kita harus diurus karena dia menghasilkan protein untuk bangsa Indonesia, dia menghasilkan protein untuk anak-anak Indonesia," kata Prabowo.
Prabowo menegaskan, perhatian terhadap nelayan merupakan bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional. Melalui kombinasi infrastruktur pesisir dan penambahan armada tangkap, pemerintah menargetkan produktivitas nelayan meningkat dan produk perikanan Indonesia makin kompetitif di pasar global.
Editor : Aditya N. Rian