MALANG, RADAR MALANG – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada Selasa (20/10/2026), setelah tekanan pasar akibat sentimen negatif dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) mulai mereda. Meski demikian, penguatan harian tersebut belum menghapus pelemahan rupiah yang mencapai hampir 14 persen sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
FXStreet Indonesia melaporkan rupiah menguat 50 poin atau 0,28 persen ke level Rp17.980 per dolar AS, dari Rp18.030 pada perdagangan sebelumnya. Pelemahan indeks dolar AS serta langkah otoritas Indonesia menjaga stabilitas pasar turut membantu pemulihan tersebut.
Namun, berdasarkan data Bloomberg yang dikutip Bloomberg Technoz, rupiah ditutup pada Rp17.987 per dolar AS pada 20 Oktober 2026. Angka itu menunjukkan depresiasi sebesar 13,85 persen dibandingkan penutupan 21 Oktober 2024, ketika rupiah berada di Rp15.495 per dolar AS. Sepanjang 2026, rupiah juga telah melemah 7,28 persen.
Tekanan terhadap rupiah meningkat setelah MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia. Kekhawatiran investor terhadap transparansi kepemilikan saham dan tata kelola pasar memicu aksi jual yang turut membebani mata uang domestik.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abdul Manap Pulungan, menilai kepercayaan investor menjadi salah satu persoalan utama di balik pelemahan rupiah.
“Ini lagi-lagi berbicara trust. Hal ini juga terkonfirmasi dari credit default swap Indonesia yang cenderung meningkat. Artinya ketika investor ingin berani menaruh duit Indonesia, tetapi dia meminta imbal hasil yang lebih tinggi,” ucapnya, Selasa (20/10/2026).
Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga kepercayaan pasar serta menekan risiko pelemahan rupiah lebih lanjut.
Baca Juga: Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran, Mahasiswa Tertahan Barikade Polisi di Jakarta
Editor : Aditya N. RianSumber : Dari berbagai sumber